Pencarian

IPO Terbesar Jepang Sepanjang 2026, Go Aplikasi Taksi Jepang Siap Genjot Robotaxi dan Akuisisi di Tengah Krisis Sopir

Sabtu, 20 Juni 2026 • 23:55:32 WIB
IPO Terbesar Jepang Sepanjang 2026, Go Aplikasi Taksi Jepang Siap Genjot Robotaxi dan Akuisisi di Tengah Krisis Sopir
Go berhasil mengumpulkan dana IPO terbesar Jepang 2026 sebesar ¥88,6 miliar untuk pengembangan robotaxi dan akuisisi.
di Tengah Krisis Sopir LEAD: Go, aplikasi pemesanan taksi asal Jepang, mengantongi dana segar ¥88,6 miliar atau sekitar $553 juta dari IPO terbesar di Jepang pada 2026. Dana ini akan mengakselerasi pengembangan robotaxi dan akuisisi strategis di tengah krisis kekurangan sopir yang mengancam industri taksi Negeri Sakura. Langkah ini menjadi barometer minat investor global terhadap solusi mobilitas masa depan Jepang. ISI:

BENGKULU — Pasar modal Jepang yang lesu akhirnya mendapat suntikan semangat dari aksi korporasi Go. Perusahaan yang melantai di bursa pada pekan lalu ini berhasil mengumpulkan dana besar sebagai amunisi bertahan dan bertransformasi.

Dana Segar untuk Mobil Otonom dan Ekspansi

Manajemen Go secara terbuka mengalokasikan dana hasil IPO untuk dua prioritas utama: investasi riset dan pengembangan taksi otonom (robotaxi), serta ekspansi bisnis melalui merger dan akuisisi, baik di dalam maupun di luar industri taksi.

"Kami bermaksud menggunakan hasil penjualan saham baru untuk investasi dalam riset dan pengembangan terkait robotaxi dan investasi ekspansi bisnis, termasuk merger dan akuisisi strategis," ujar juru bicara Go dalam pernyataan resmi.

Minat investor global terhadap saham Go terbukti tinggi. Nama-nama besar seperti BlackRock, Wellington Management, dan M&G Investment Management tercatat ikut dalam proses penawaran. Namun, harga saham Go sempat terkoreksi sekitar 4% ke level ¥2.314 dari harga perdana ¥2.400.

Krisis Sopir: Masalah Utama yang Mendesak

Ambisi Go membangun armada robotaxi bukan sekadar mengikuti tren teknologi. Di balik rencana ini, ada masalah fundamental yang menggerogoti industri taksi Jepang: jumlah sopir yang terus menyusut. Data Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata Jepang menunjukkan penurunan jumlah sopir taksi hingga 20% dalam beberapa tahun terakhir.

Populasi Jepang yang menua membuat angka ini sulit pulih. Layanan ride-sharing yang baru diluncurkan pada 2024 pun belum mampu menjadi solusi jitu. Pasalnya, layanan tersebut masih dibatasi secara geografis dan mewajibkan pengemudi bekerja di bawah perusahaan taksi. Regulasi ini dinilai tidak efektif mengatasi kelangkaan sopir.

Strategi Go: Kemitraan dan Fokus pada Koordinasi

Didirikan pada 1977 sebagai operator taksi, Go kini menjelma menjadi aplikasi ride-hailing terbesar Jepang. Aplikasi ini telah diunduh 35 juta kali, menggandeng 85.000 kendaraan mitra, dan menguasai 80% pangsa pasar aplikasi taksi berdasarkan waktu penggunaan di 46 dari 47 prefektur Jepang.

Menariknya, Go tidak berniat mengembangkan teknologi otonom sendiri. CEO Hiroshi Nakajima sebelumnya menegaskan hal ini kepada Nikkei Asia. Sebagai gantinya, Go menjalin kemitraan strategis dengan Waymo (anak perusahaan Alphabet yang fokus pada otonom) dan Nihon Kotsu, salah satu operator taksi terbesar Jepang. Dalam kemitraan ini, Go bertanggung jawab atas koordinasi strategis.

Go belum menetapkan jadwal pasti kapan taksi sepenuhnya otonom tanpa pendamping manusia akan beroperasi. "Kami berencana mulai mengemudi secara otonom, tanpa kehadiran spesialis manusia, ketika teknologi kami telah tervalidasi dan mendapatkan persetujuan," jelas sang juru bicara.

Persaingan Sengit di Tokyo dan Layanan untuk Turis

Go bukan satu-satunya pemain yang membidik masa depan robotaxi di Tokyo. Uber, Wayve, dan Nissan telah mengumumkan rencana uji coba layanan robotaxi di Tokyo pada akhir 2026. Layanan ini akan menggunakan mobil listrik Nissan Leaf yang ditenagai AI Driver milik Wayve dan dapat dipesan melalui aplikasi Uber.

Sembari menunggu masa depan otonom, Go terus memperkuat bisnis tradisionalnya. Perusahaan telah bermitra dengan Kakao T, Alipay, dan WeChat Pay. Kemitraan ini memungkinkan wisatawan asing dari Korea Selatan, China, dan Taiwan memesan taksi dari aplikasi lokal mereka langsung ke armada Go. Langkah serupa juga dilakukan Uber lewat kerja sama dengan S.Ride dan Didi Mobility Japan.

IPO Go menjadi sinyal kuat bahwa investor global percaya pada solusi mobilitas berbasis teknologi di Jepang, meskipun regulasi dan tantangan demografis masih menjadi pekerjaan rumah besar. Bagi pengguna, persaingan ini pada akhirnya akan menghadirkan lebih banyak pilihan transportasi yang efisien di masa depan.

Bagikan
Sumber: techcrunch.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks