BENGKULU — BMKG melalui kanal resmi @infoBMKG di media sosial X merilis analisis awal gempa yang terjadi di tengah laut itu. Pusat gempa terdeteksi berada pada jarak 169 kilometer arah Barat Laut Tahuna, Kepulauan Sangihe. Meski berpusat di laut dengan kedalaman dangkal, lembaga tersebut menyatakan parameter gempa tidak memicu gelombang tsunami di wilayah pesisir sekitar.
Dua Gempa Susulan di Wilayah Indonesia Timur dan Jawa
Dalam rentang waktu kurang dari sepuluh menit, BMKG juga mencatat dua aktivitas seismik lain di lokasi berbeda. Pukul 04.44 WIB, gempa berkekuatan Magnitudo 3,9 mengguncang Gorontalo Utara, Gorontalo. Episentrumnya berada di koordinat 1.28 Lintang Utara, 122.80 Bujur Timur, atau 54 kilometer Barat Laut Gorontalo Utara dengan kedalaman 11 kilometer.
Selanjutnya, pada pukul 04.48 WIB, guncangan kecil Magnitudo 2,6 terekam di wilayah Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Data ini menunjukkan aktivitas tektonik yang terjadi hampir bersamaan di tiga titik berbeda di Indonesia pada Kamis pagi.
Kedalaman Dangkal dan Dampak Guncangan
Kedalaman hiposenter gempa Sangihe yang hanya 10 kilometer termasuk kategori dangkal. Gempa dangkal umumnya menghasilkan getaran yang lebih kuat dirasakan dibandingkan gempa dalam dengan magnitudo serupa. Meski demikian, BMKG belum mengeluarkan peringatan dini atau rekomendasi khusus bagi warga untuk mengungsi.
Hingga rilis ini diterbitkan, belum ada laporan resmi mengenai kerusakan bangunan atau korban jiwa akibat guncangan di Kepulauan Sangihe dan sekitarnya. BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terpancing isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Rangkaian Aktivitas Tektonik di Zona Subduksi
Wilayah Sulawesi Utara dan sekitarnya memang dikenal sebagai kawasan rawan gempa karena berada di pertemuan lempeng tektonik aktif. Gempa Sangihe kali ini terjadi di zona subduksi yang membentang di bagian utara Sulawesi, area yang kerap menjadi sumber gempa dangkal.
BMKG terus memantau perkembangan aktivitas gempa susulan. Masyarakat di pesisir diminta waspada terhadap potensi gelombang tinggi yang kerap menyertai gempa meski tidak berpotensi tsunami, terutama bagi aktivitas pelayaran dan nelayan yang sedang melaut.