BENGKULU — Jakarta — Perangkat wearable seperti smartwatch kini telah menjadi bagian dari gaya hidup digital masyarakat Indonesia, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Tidak hanya digunakan untuk melihat waktu, perangkat ini juga dipakai untuk memantau kesehatan, aktivitas olahraga, hingga produktivitas harian. Popularitasnya terus meningkat seiring dengan kehadiran fitur berbasis kecerdasan buatan (AI) yang semakin canggih.
Dampak Psikologis di Balik Layar Smartwatch
Penelitian terbaru dari Dr. Ressa Uli Patrissia mengungkap sisi lain dari penggunaan smartwatch. Menurutnya, perangkat ini mulai memengaruhi cara manusia berpikir, mengambil keputusan, bahkan membentuk identitas diri. Fitur otomatis seperti pengingat olahraga, notifikasi kualitas tidur, pemantauan detak jantung, hingga analisis emosi membuat pengguna semakin bergantung pada rekomendasi algoritma.
"Banyak orang tanpa sadar mulai mengikuti arahan algoritma dalam menjalani aktivitas sehari-hari," ujar Dr. Ressa. Teknologi AI dirancang untuk memahami kebiasaan pengguna melalui data yang dikumpulkan setiap hari, sehingga saran yang diberikan terasa sangat personal.
Generasi Muda Paling Rentan Terpengaruh
Data penggunaan perangkat wearable di Indonesia menunjukkan bahwa Gen Z dan Milenial menjadi kelompok pengguna terbesar. Smartwatch kini bukan sekadar alat elektronik, melainkan simbol gaya hidup modern. Banyak pengguna merasa lebih percaya diri dan produktif saat mengenakannya.
Penelitian yang melibatkan Gen X, Milenial, dan Gen Z menunjukkan adanya perubahan cara manusia berinteraksi dengan teknologi. Jika dulu perangkat digital hanya sebagai alat bantu, kini hubungan tersebut berkembang menjadi keterikatan emosional. Sebagian pengguna merasa smartwatch membantu mereka lebih memahami diri sendiri, namun di sisi lain muncul kekhawatiran bahwa manusia mulai terlalu bergantung pada data dan rekomendasi algoritma dibandingkan intuisi pribadi.
Kecemasan Digital: Saat Target Langkah Tidak Tercapai
Salah satu dampak yang mulai terlihat adalah munculnya kecemasan ketika target harian tidak terpenuhi. Seseorang bisa merasa gelisah jika target langkah harian tidak tercapai atau kualitas tidurnya dianggap buruk oleh sistem AI. Kondisi ini menunjukkan bahwa teknologi perlahan ikut membentuk cara manusia menilai dirinya sendiri.
Bagi sebagian orang, ketergantungan ini memberikan manfaat besar. Pengguna menjadi lebih disiplin menjaga kesehatan, rutin bergerak, dan lebih sadar terhadap kondisi tubuh mereka. Namun, para ahli mengingatkan bahwa ketergantungan yang berlebihan dapat membuat seseorang kehilangan kontrol terhadap keputusan pribadinya.
Bijak Menggunakan Teknologi Wearable
Kemajuan AI memang membawa banyak manfaat, terutama dalam memantau kesehatan dengan lebih mudah. Namun, manusia tetap harus menjadi pengendali utama. Smartwatch seharusnya digunakan sebagai alat pendukung, bukan penentu keputusan hidup sepenuhnya.
Kesadaran digital menjadi hal penting di tengah perkembangan AI yang semakin canggih. Pengguna perlu memahami bahwa data kesehatan, aktivitas harian, hingga pola emosi yang terekam dalam perangkat wearable merupakan informasi pribadi yang sangat sensitif. Di masa depan, hubungan antara manusia dan teknologi diperkirakan akan semakin kompleks, melibatkan data, algoritma, dan kecerdasan buatan dalam kehidupan sosial sehari-hari.
Penggunaan smartwatch secara bijak menjadi langkah penting agar teknologi tetap memberikan manfaat positif tanpa mengurangi kebebasan manusia dalam menentukan pilihan hidupnya sendiri. Teknologi harus membantu, bukan mengendalikan.