BENGKULU — Penguatan rupiah pagi ini menempatkannya di kelompok mata uang Asia yang menghijau, bersama dolar Taiwan, peso Filipina, baht Thailand, dan ringgit Malaysia. Di sisi lain, won Korea Selatan melemah, mengikuti yen Jepang, dolar Singapura, dan yuan offshore yang juga tertekan.
Strategi Bank Sentral Kawasan Menahan Gejolak Nilai Tukar
Langkah bank-bank sentral di kawasan Asia yang semakin agresif menopang mata uangnya menjadi faktor utama di balik penguatan ini. Strategi yang dijalankan dinilai lebih efektif karena tidak menggerus cadangan devisa secara signifikan.
India menjadi contoh nyata. Negara tersebut dilaporkan berhasil menarik dana hampir US$40 miliar dari diaspora melalui instrumen deposito dolar berbunga tinggi. Strategi ini terbukti membantu pemulihan rupee India dari posisi terendahnya pada Mei lalu.
Repatriasi Dolar Korporasi Dongkrak Won Korea Selatan
Korea Selatan mengambil pendekatan berbeda dengan mendorong percepatan repatriasi dolar korporasi. Kebijakan ini disebut-sebut menjadi katalis penguatan won yang mencatatkan kenaikan bulanan terbesar sejak 2022.
Langkah serupa yang diambil berbagai negara di kawasan menunjukkan adanya pergeseran paradigma dalam menghadapi tekanan eksternal. Alih-alih mengintervensi pasar secara langsung, otoritas moneter kini lebih memilih membangun bantalan likuiditas domestik untuk menstabilkan nilai tukar.
Tekanan Harga Minyak Masih Menjadi Faktor Risiko
Kenaikan harga minyak mentah ke level US$84 per barel tetap menjadi momok bagi negara-negara importir energi di Asia. Meski rupiah mampu bertahan di zona hijau, fluktuasi harga komoditas global masih berpotensi memicu volatilitas pada perdagangan berikutnya.
Para pelaku pasar akan mencermati perkembangan harga energi dan data ekonomi AS pekan ini sebagai penentu arah pergerakan mata uang kawasan, termasuk rupiah.