Pencarian

Teleskop Euclid ESA Tangkap Pusat Galaksi Bima Sakti, Bantu Misi NASA Cari Lubang Hitam

Kamis, 25 Juni 2026 • 08:50:01 WIB
Teleskop Euclid ESA Tangkap Pusat Galaksi Bima Sakti, Bantu Misi NASA Cari Lubang Hitam
Teleskop Euclid ESA menangkap gambar pusat Galaksi Bima Sakti dengan detail tonjolan galaksi yang padat bintang.

BENGKULU — European Space Agency (ESA) merilis potret terbaru dari pusat Galaksi Bima Sakti yang diabadikan oleh teleskop Euclid. Gambar ini menyoroti tonjolan galaksi (galactic bulge), area padat berisi miliaran bintang di inti galaksi kita. Meski Euclid selama ini fokus memotret alam semesta gelap (dark universe), teleskop ini sempat dialihkan untuk mengabadikan area tersebut.

Bukan Sekadar Foto Indah, Tapi Data Penting

Potret Euclid ini lebih dari sekadar pemandangan kosmik yang estetis. ESA menyebut gambar tersebut menjadi pijakan awal bagi misi NASA yang akan dimulai pada musim panas tahun ini. Nancy Grace Roman Space Telescope akan menjalankan misi lima tahun untuk memetakan perubahan bintang dan objek langit lainnya di sebagian kecil tonjolan galaksi.

Dengan adanya data awal dari Euclid, para peneliti bisa mendapatkan lebih banyak wawasan dibandingkan jika hanya mengandalkan satu teleskop. "Menambahkan jepretan Euclid ke survei Roman di masa depan akan membantu kami memetakan galaksi kita dengan lebih baik dan mengidentifikasi harta karun kosmik yang sulit ditemukan, seperti lubang hitam terisolasi dan planet nakal," kata Jason Rhodes, ilmuwan riset senior di Jet Propulsion Laboratory NASA dan anggota tim AS untuk proyek Euclid dan Roman.

Menguak Area Tersibuk Galaksi

Tonjolan galaksi (galactic bulge) selama ini menjadi salah satu area tersulit untuk dipelajari karena kepadatan bintangnya yang luar biasa. Dari foto Euclid, terlihat betapa padatnya kawasan ini. Sebuah investigasi sebelumnya bahkan berhasil mengidentifikasi "fosil fragmen tonjolan" (bulge fossil fragments) yang memberikan wawasan baru soal sejarah pembentukan galaksi.

Data Euclid memberikan konteks tambahan yang sangat berharga. Saat Roman mulai mengumpulkan data nanti, perbandingan antara kedua set gambar akan memungkinkan astronom mendeteksi perubahan kecil pada objek langit, termasuk kemungkinan keberadaan planet yang tidak terikat bintang induknya alias planet nakal (rogue planets).

Sinergi Dua Teleskop Canggih

Kolaborasi antara Euclid dan Roman menjadi contoh nyata bagaimana dua observatorium berbeda bisa saling melengkapi. Euclid, yang dirancang untuk memotret alam semesta dalam skala luas, memberikan gambaran konteks area yang lebih besar. Sementara Roman, dengan kemampuan resolusi tinggi, akan fokus pada detail di area spesifik dalam tonjolan galaksi.

Bagi penggemar astronomi di Indonesia, kabar ini menegaskan bahwa era eksplorasi antariksa semakin menarik. Data dari kedua teleskop ini nantinya akan tersedia untuk publik, membuka peluang bagi astronom amatir dan akademisi lokal untuk turut serta dalam riset kosmik global.

Bagikan
Sumber: engadget.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks