BENGKULU — Laga yang dimulai pukul 18.00 ET ini menjadi panggung bagi Maroko untuk membuktikan ketajaman yang sempat hilang. Sebelumnya, dalam dua pertandingan, mereka melepaskan 26 tembakan tapi hanya lima yang mengarah ke gawang dan baru mencetak dua gol. Malam itu, statistik berubah drastis: 22 tembakan, 11 tepat sasaran—rekor tertinggi mereka di turnamen ini.
Akhirnya Tajam: Dari 5 Tembakan Tepat Sasaran Jadi 11
Serangan Maroko hidup di menit-menit akhir babak pertama. Achraf Hakimi menjadi motor utama dengan satu gol dan satu assist, plus lima tembakan—terbanyak di antara rekan-rekannya. Di babak kedua, ketenangan Singa Atlas membuahkan hasil lewat skema sepak pojok yang dominan: sembilan corner berbanding satu milik Haiti.
Dua gol di babak kedua lahir dari pemain pengganti. Soufiane Rahimi mencetak gol spektakuler di menit ke-78 setelah menerima bola dari sepak pojok, menahannya dengan tenang, lalu melepaskan tembakan ke sudut atas gawang. Tujuh menit berselang, Rahimi kembali menjadi aktor dengan menjaga bola tetap di garis lapangan sebelum mengirim umpan silang ke Yassine yang tinggal mendorong bola ke gawang kosong.
VAR Jadi Perdebatan: Bola Keluar atau Tidak?
Gol kedua Rahimi sempat diperiksa VAR karena bola nyaris melewati garis akhir. Sejumlah penggemar, termasuk pembaca yang diidentifikasi sebagai Stephen, memprotes: "Itu bola sudah keluar! VAR kriminal!" Namun, wasit memutuskan gol tetap sah setelah meninjau tayangan ulang.
Momen lucu terjadi saat selebrasi Rahimi: ia berlari ke arah bendera sudut, meluncur, lalu hampir melepas jersey—namun mengurungkan niatnya di tengah jalan. Mungkin ia ingat itu kartu kuning.
Kiper Veteran Haiti: 8 Penyelamatan, 2 Gol karena Kesalahan Sendiri
Johny Placide, kiper Haiti berusia 38 tahun, mengumumkan laga ini sebagai pertandingan terakhirnya bersama tim nasional. Ia tampil impresif dengan delapan penyelamatan, termasuk penyelamatan ganda di menit ke-30. Dua gol yang ia kebobolan berasal dari kesalahan yang tidak menguntungkan.
"Motto mereka: 'setiap bola adalah milikku'. Sayangnya mereka terlalu lama memegang bola, menabrak tembok, lalu kehilangannya. Lumayan untuk tim yang tidak bisa bermain di negara sendiri," demikian komentar seorang pengamat dalam siaran langsung.
Gol Bunuh Diri Mengejar Rekor, Haiti Pulang dengan Kenangan Manis
Turnamen ini mencatatkan 11 gol bunuh diri—hanya berjarak satu dari rekor 12. Seorang penggemar bercanda bahwa Own Goal kembali menjadi pesaing Sepatu Emas, tradisi yang tak pernah absen di Piala Dunia.
Haiti mungkin frustrasi karena gagal melaju, tapi gol Isidor akan dikenang lama. Di menit akhir, tendangan bebas Nazon hampir menjadi gol ketiga andai Bounou tidak sigap menepis. Pertandingan ditutup dengan sedikit drama: Sofyan Amrabat terkena bola di wajah dari sepak pojok Haiti.
Maroko kini menunggu lawan di babak 16 besar. Sementara itu, Haiti—meski kalah—telah meninggalkan jejak di Atlanta dengan performa yang layak dihormati.