BENGKULU — Peluncuran di Jakarta pekan ini menegaskan strategi Xiaomi yang tidak lagi hanya bermain di kelas entry-level. Seri S Mini LED 2026 mengusung panel QD-Mini LED dengan kecerahan puncak 1.200 nits dan reproduksi 1,07 miliar warna — angka yang biasanya baru ditemukan di TV premium Samsung atau LG. Pertanyaannya, apakah sekadar spesifikasi di atas kertas atau benar-benar terasa saat dipakai menonton?
Lima Varian, Harga dari Rp 7 Jutaan hingga Rp 60 Jutaan
Xiaomi membagi jajaran ini ke lima ukuran dengan rentang harga yang lebar. Berikut rinciannya:
- 55 inci — mulai Rp 7.999.000, ditujukan untuk produktivitas dan work-from-home
- 65 inci — Rp 11.999.000, untuk ruang keluarga dengan pencahayaan adaptif
- 75 inci — Rp 15.999.000, ukuran ideal menonton bersama keluarga
- 85 inci — Rp 29.999.000, mendukung refresh rate 144Hz dengan fitur Game Boost hingga 288Hz
- 98 inci — Rp 59.999.000, varian tertinggi untuk home theater dan gamer hardcore
Seluruh varian sudah mendukung Dolby Vision, Dolby Atmos, dan DTS:X. Untuk pembelian di Xiaomi Store dan Mi.com, ongkos kirim gratis ke seluruh Pulau Jawa, sementara varian 85 dan 98 inci mendapat layanan pemasangan gratis di radius cakupan Xiaomi Exclusive Service Center.
Panel Mini LED 1.200 Nits: Cerah di Siang Hari, Tapi Perlu Kalibrasi Manual
Teknologi QD-Mini LED pada seri ini menghasilkan tingkat kontras yang jauh lebih dalam dibandingkan LED konvensional. Vivid Colour Engine dan Global Dimming Engine bekerja sama untuk menjaga akurasi warna, dan dalam pengujian awal, konten HDR dari YouTube dan Netflix tampil mengesankan — highlight matahari tidak meledak, dan area gelap tetap punya detail.
Namun ada catatan: setelan pabrik cenderung oversaturated untuk konten SDR biasa. Pengguna yang terbiasa dengan akurasi warna netral ala Sony Bravia atau LG OLED perlu turun ke menu picture preset dan memilih mode Filmmaker atau Custom. Ini bukan kekurangan fatal, tapi menunjukkan bahwa klaim "setara monitor studio profesional" hanya berlaku setelah kalibrasi manual.
Varian 85 dan 98 Inci: 288Hz Game Boost yang Perlu Dipertanyakan
Dua varian terbesar mendukung refresh rate 144Hz native pada resolusi 4K, dengan fitur Game Boost yang mendongkrak hingga 288Hz. Angka ini terdengar spektakuler, tapi perlu dipahami: 288Hz hanya tercapai pada resolusi lebih rendah (biasanya 1080p atau 1440p) melalui teknologi interpolasi atau pengurangan resolusi. Untuk gaming kompetitif di PC, ini tetap menguntungkan karena mendukung Variable Refresh Rate (VRR) yang mencegah screen tearing.
Konsol generasi terbaru seperti PS5 dan Xbox Series X hanya mampu output 120Hz di 4K, jadi fitur 288Hz lebih relevan untuk pemilik GPU high-end. Jika kamu hanya bermain konsol, varian 65 atau 75 inci sudah cukup — kecuali kamu memang menginginkan ukuran layar raksasa untuk imersi total.
Varian 55 Inci: Fitur Kesehatan Mata yang Jarang Ditemui
Menariknya, Xiaomi memberikan perhatian khusus pada varian 55 inci dengan algoritma low blue light dan peredupan hibrida 20kHz. Ini adalah frekuensi peredupan yang jauh lebih tinggi dari standar industri (kebanyakan TV menggunakan 960Hz hingga 3.840Hz), yang berarti flicker tidak akan terdeteksi mata — penting untuk pengguna yang bekerja 8 jam di depan layar spreadsheet atau aplikasi presentasi.
Integrasi Google Cast dan Apple AirPlay juga berjalan mulus untuk mirroring dari laptop atau smartphone. Sayangnya, varian ini tidak mendapat fitur Game Boost 288Hz yang ada di kakak-kakaknya — keputusan segmentasi yang masuk akal, tapi perlu diketahui sebelum membeli.
Audio Bawaan: Lumayan untuk Ukuran TV, Tapi Jangan Harap Ngeri
Sertifikasi Dolby Atmos dan DTS:X terdengar meyakinkan di atas kertas, namun speaker internal TV Xiaomi secara historis tidak pernah menjadi yang terbaik di kelasnya. Untuk ruang keluarga 3x4 meter, suaranya cukup — dialog tetap jelas, dan efek surround virtual terasa. Tapi untuk pengalaman sinema sejati, tambahan soundbar atau home theater tetap disarankan, terutama untuk varian 85 dan 98 inci di mana ruang yang lebih besar membutuhkan tenaga audio lebih.
Kekurangan dan Hal yang Perlu Dipertimbangkan
- Setelan warna pabrik oversaturated — perlu kalibrasi manual untuk akurasi terbaik
- Speaker internal kurang bertenaga untuk ruangan luas — tambahan soundbar hampir wajib untuk varian besar
- TV ini menggunakan sistem operasi Google TV dengan iklan di antarmuka — bisa diganggu bagi sebagian pengguna
- Harga varian 98 inci (Rp 59,9 juta) bersaing dengan LG QNED dan Samsung Neo QLED yang punya reputasi lebih mapan di kelas premium
- Game Boost 288Hz hanya untuk varian 85 dan 98 inci, dan hanya tercapai di resolusi rendah
Verdict: Siapa yang Cocok Membeli?
Xiaomi TV S Mini LED 2026 adalah pilihan menarik untuk pembeli yang mengutamakan nilai — kamu mendapat panel Mini LED, kecerahan 1.200 nits, dan dukungan Dolby Vision di harga yang lebih murah 20-30% dibandingkan kompetitor sekelas. Varian 65 dan 75 inci adalah sweet spot untuk ruang keluarga Indonesia, menawarkan keseimbangan antara ukuran, fitur, dan harga.
Namun untuk varian 98 inci di Rp 59,9 juta, pertimbangan jadi lebih rumit. Di rentang harga ini, pembeli bisa melihat opsi dari merek premium dengan reputasi image processing yang lebih matang. Rekomendasi kami: jika budget terbatas dan ingin layar besar, seri ini layak masuk daftar. Jika kamu tipe yang sensitif terhadap akurasi warna dan siap merogoh kocek lebih dalam, ada baiknya menengok kompetitor sebelum memutuskan.