Pencarian

Stand Kabupaten Kepahiang di Festival Tabut 2026 Edukasi Warga soal Kopi, Harga Petik Merah Tembus Rp 75 Ribu

Selasa, 23 Juni 2026 • 11:37:01 WIB
Stand Kabupaten Kepahiang di Festival Tabut 2026 Edukasi Warga soal Kopi, Harga Petik Merah Tembus Rp 75 Ribu
Stan UMKM Chi Nho Nha Coffe di Festival Tabut 2026 mempromosikan kopi petik merah Kepahiang.

KEPAHIANG — Festival Tabut 2026 di Bengkulu menjadi panggung bagi Kabupaten Kepahiang untuk memperkenalkan produk unggulan daerahnya. Salah satu yang paling menyedot perhatian pengunjung adalah stan UMKM kopi Chi Nho Nha Coffe, yang tidak hanya menjual tetapi juga mengubah cara pandang masyarakat terhadap kopi.

Mengapa Kopi Tak Selalu Pahit dan Bikin Sakit Lambung?

Bernard Matius, pemilik Chi Nho Nha Coffe, mengatakan masih banyak masyarakat yang menganggap kopi identik dengan rasa pahit, warna hitam, dan gangguan lambung. Padahal, menurutnya, anggapan itu muncul karena proses pengolahan yang keliru.

"Karena kalau bicara tentang kopi, ada yang beranggapan kopi itu pahit, hitam, dan bikin sakit lambung. Namun jika diolah dengan benar, ada kopi yang tidak hitam, tidak pahit dan tidak membuat sakit lambung," ungkap Bernard di stan pameran, Selasa (23/6).

Ia menjelaskan, kopi yang diproses secara tepat justru bisa menghasilkan cita rasa yang lebih ramah di lambung. Edukasi semacam ini, kata Bernard, menjadi misi utama mereka di tengah maraknya konsumsi kopi instan di kalangan anak muda.

Petik Merah vs Petik Asalan: Beda Harga, Beda Kualitas

Selain edukasi konsumen, Chi Nho Nha Coffe juga berkomitmen meningkatkan kesejahteraan petani kopi di Kepahiang. Bernard mengaku hanya membeli biji kopi petik merah—buah kopi yang dipanen saat benar-benar matang—bukan petik asalan yang mencampur buah mentah dan matang.

Konsekuensinya, harga yang dibayarkan ke petani jauh lebih tinggi. "Kami juga membantu para petani kopi dengan membeli kopi petik merah, bukan petik asalan. Kopi petik merah ini harganya bisa mencapai 70 ribu hingga 75 ribu rupiah, sementara petik asalan itu hanya 50 ribu rupiah per kilogram," kata Bernard.

Langkah ini dinilai strategis untuk mendorong petani beralih ke metode panen selektif yang menghasilkan biji berkualitas ekspor. Dengan begitu, rantai nilai kopi Kepahiang bisa naik kelas, dari sekadar komoditas mentah menjadi produk siap saji bernilai tambah.

Festival Tabut 2026 Jadi Etalase UMKM Bengkulu

Festival Tabut tahun ini memang menjadi ajang promosi bagi produk-produk lokal Bengkulu, termasuk kopi khas Kepahiang. Stan UMKM seperti Chi Nho Nha Coffe mendapat tempat strategis untuk menjangkau pengunjung dari berbagai daerah.

Ke depan, Bernard berharap edukasi semacam ini bisa terus digencarkan, tidak hanya saat festival. "Kalau petani paham nilai petik merah, konsumen paham cara menikmati kopi yang benar, ekosistem kopi kita akan lebih sehat," pungkasnya.

Bagikan
Sumber: rri.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks