BENGKULU — Pada Maret 1990, Presiden FIFA saat itu, João Havelange, melontarkan ide yang menghebohkan dunia sepak bola. Ia mengusulkan pertandingan tidak lagi menggunakan dua babak 45 menit, melainkan empat kuarter masing-masing 25 menit. Targetnya jelas: mengakomodasi jaringan televisi AS seperti ABC dan ESPN yang memegang hak siar Piala Dunia 1994.
Televisi AS Ingin Iklan, Sepak Bola Tradisional Terancam
Jaringan televisi Amerika ketakutan. Mereka menganggap sepak bola tanpa jeda iklan selama 45 menit adalah risiko finansial besar. Tanpa celah untuk memutar komersial, turnamen dianggap bisa menjadi bencana bisnis. FIFA pun panik setelah Piala Dunia 1990 yang dinilai sangat membosankan.
Italia 1990 menjadi salah satu turnamen dengan rata-rata gol terendah, hanya 2,21 gol per pertandingan. Final yang penuh pelanggaran dan minim serangan membuat FIFA yakin sepak bola perlu "diperbaiki" agar laku di pasar Amerika.
UEFA dan IFAB Bantai Habis Ide Empat Kuarter
UEFA, yang didukung penuh oleh asosiasi tradisionalis Inggris di International Football Association Board (IFAB), langsung bereaksi keras. Mereka menolak mentah-mentah gagasan mengubah struktur pertandingan demi uang iklan. "Membantai arloji pertandingan" dianggap sebagai pengkhianatan terhadap esensi sepak bola.
Tak hanya soal waktu, FIFA juga sempat memperdebatkan pembesaran ukuran gawang untuk memberi keuntungan bagi striker. Ide itu pun bernasib sama: ditembak jatuh oleh UEFA dan IFAB.
Kompromi Lahir: Larangan Back-Pass dan Tiga Poin untuk Kemenangan
Kegagalan mengubah durasi dan ukuran gawang memaksa FIFA mencari jalan lain. Hasilnya adalah aturan yang kini kita anggap biasa: larangan kiper memegang bola hasil umpan balik dari kaki rekan setim. Aturan ini diperkenalkan pada 1992 setelah final Euro yang membosankan.
Selain itu, sistem tiga poin untuk kemenangan mulai diterapkan di Piala Dunia 1994. Sebelumnya, kemenangan hanya bernilai dua poin. Sistem ini dirancang untuk menghukum tim yang bermain aman dan mendorong serangan. Wasit juga mulai diizinkan memakai warna selain hitam, dan nama pemain tercetak di jersey untuk pertama kalinya.
Hasil Akhir: Sukses Komersial Tanpa Mengorbankan Tradisi
Kompromi itu bekerja dengan baik. Piala Dunia 1994 menjadi sukses komersial besar-besaran, memecahkan rekor kehadiran penonton yang masih bertahan hingga kini. Rata-rata gol per pertandingan meningkat drastis menjadi 2,71 gol—semua tanpa satu pun jeda iklan di tengah permainan.
Pelajaran dari episode ini jelas: tekanan komersial bisa menghasilkan perubahan, tapi tembok tradisi yang kuat—dalam hal ini dari UEFA dan IFAB—mampu menjaga identitas sepak bola tetap utuh.