BENGKULU — Pemerintah Kota Bengkulu memastikan tidak akan memberi toleransi kepada pedagang yang nekat menaikkan harga secara sepihak selama perhelatan Festival Tabut 2026. Imbauan keras ini disampaikan langsung oleh Wali Kota Dedy Wahyudi yang menyebut bahwa festival budaya tahunan tersebut adalah etalase utama pariwisata daerah.
“Festival Tabut merupakan wajah Kota Bengkulu di hadapan wisatawan. Karena itu saya mengimbau seluruh pedagang untuk menjual barang dan makanan dengan harga yang wajar serta memberikan pelayanan yang baik kepada pengunjung,” ujar Dedy dalam keterangan yang diterima, Senin.
Harga Wajib Wajar, Bukan Ikut-ikutan Naik Saat Ramai
Menurut Dedy, lonjakan jumlah pengunjung yang diperkirakan mencapai ribuan orang kerap menjadi celah bagi oknum pedagang untuk mengambil keuntungan instan. Ia menegaskan bahwa praktik menaikkan harga seenaknya justru akan merusak citra Kota Bengkulu dalam jangka panjang.
Pemerintah kota menilai keberhasilan Festival Tabut tidak hanya diukur dari kemeriahan pertunjukan budaya atau banyaknya pengunjung. Namun, bagaimana seluruh elemen, termasuk pelaku UMKM, ikut menciptakan kenyamanan dan kesan positif bagi wisatawan dari luar daerah.
Pengawasan Langsung di Lapangan, Sanksi Menanti Pelanggar
Untuk memastikan imbauan ini tidak dilanggar, Pemkot Bengkulu akan menerjunkan tim pengawas ke lokasi festival. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi adanya pedagang yang memanfaatkan situasi keramaian dengan menaikkan harga secara tidak wajar.
Dedy berharap momentum festival tahunan ini bisa menjadi penggerak ekonomi masyarakat, khususnya pelaku usaha kecil, tanpa harus mengorbankan kepentingan konsumen. “Jangan sampai kesan wisatawan terhadap Kota Bengkulu menjadi buruk hanya karena ulah segelintir pedagang yang tidak bertanggung jawab,” tambahnya.
Festival Tabut sendiri merupakan tradisi tahunan yang selalu dinantikan masyarakat Bengkulu dan sekitarnya. Ajang ini tidak hanya menyajikan atraksi budaya khas, tetapi juga menjadi ajang promosi ekonomi dan pariwisata daerah.