BENGKULU — Teknologi cylinder deactivation sudah berusia lebih dari empat dekade, tetapi sampai kini masih jadi cara kontroversial untuk menghemat bahan bakar. Sistem yang mematikan sebagian silinder saat mesin ringan beban itu menambah kompleksitas mekanis dan elektronik. Kompleksitas tambahan itulah yang membuka celah berbagai masalah, dari konsumsi oli berlebih hingga kegagalan lifter.
Pabrikan memilih dua jalur berbeda untuk menekan konsumsi bahan bakar mesin bensin. Sebagian menambah motor listrik dan paket baterai tegangan tinggi untuk membentuk powertrain hybrid, sebagian lain memakai cylinder deactivation. Sistem kedua mematikan beberapa silinder sementara ketika tenaga penuh belum dibutuhkan, sehingga konsumsi bahan bakar dan emisi karbon dioksida ikut turun.
Teknologi ini umum dijumpai pada mesin berkapasitas besar, misalnya EcoTec V8 5.3 liter milik Chevrolet. Sejumlah mesin empat silinder juga memakainya, seperti TSI Evo 2 1.5 liter dari Volkswagen dan Skyactiv-G 2.5 liter dari Mazda.
Cara Kerja Pemutusan Silinder Saat Beban Ringan
Saat mesin bekerja dengan beban ringan, tidak semua silinder perlu menghasilkan tenaga untuk memutar roda. Unit kontrol mesin memutus pengapian dan suplai bahan bakar pada silinder terpilih, lalu menahan katup masuk dan katup buang tetap tertutup. Piston di silinder itu masih bergerak, tetapi gas yang terperangkap mengurangi energi yang dibutuhkan untuk menggerakkannya.
Banyak sistem cylinder deactivation memakai lifter atau mekanisme rocker arm yang dikendalikan tekanan hidraulis untuk mencegah katup terbuka. Solenoid kontrol oli mengalirkan oli mesin bertekanan ke komponen tersebut, sementara unit kontrol mesin mengatur peralihan antar mode operasi. Begitu pengemudi menekan gas atau menghadapi tanjakan, silinder diaktifkan kembali untuk memulihkan tenaga.
Bukan Teknologi Baru, Sudah Ada Sejak 1981
Cadillac memperkenalkan sistem V8-6-4 pada model year 1981, memungkinkan mesin V8 bekerja dengan delapan, enam, atau empat silinder. Sistem awal itu tersendat dan peralihan tenaganya kasar karena teknologi kontrol mesin saat itu belum mampu mengelola perubahan secara mulus.
Meski begitu, pengujian Environmental Protection Agency pada 1981 mencatat peningkatan efisiensi bahan bakar 3% sampai 20% pada mesin delapan silinder. Elektronik modern membuat peralihan mode jauh lebih halus dan andal. Perangkat keras tambahannya tetap menciptakan titik kegagalan baru. Efisiensi juga hanya terasa saat melaju stabil; di lalu lintas berhenti-jalan atau saat akselerasi sering, manfaatnya menyusut karena semua silinder kembali bekerja.
Konsumsi Oli Berlebih hingga Lifter Gagal
Keluhan yang paling sering dikaitkan dengan mesin bercylinder deactivation adalah konsumsi oli berlebihan. Pada sejumlah sistem, oli bisa masuk ke ruang bakar lewat sistem ventilasi crankcase atau jalur lain. Endapan di alur ring piston juga dapat menghambat gerak ring sehingga lebih banyak oli lolos ke silinder.
Oli yang terbakar mengotori busi, memicu misfire, dan menimbulkan asap biru dari knalpot. Gejala semacam itu tidak selalu berasal dari cylinder deactivation, jadi