BENGKULU — BTN menyiapkan pembiayaan hingga Rp3 triliun untuk memperkuat ekosistem pangan Holding BUMN Pangan ID FOOD, lewat nota kesepahaman yang diteken di Jakarta, Kamis (1/10). Kerja sama ini memperluas peran BTN dari sekadar pemberi kredit menjadi mitra transaksi perbankan di sepanjang rantai bisnis pangan.
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk menandatangani nota kesepahaman dengan ID FOOD di Menara 2 BTN, Jakarta, Kamis (1/10). Penandatanganan itu mencakup pemanfaatan jasa dan layanan perbankan serta pengembangan ekosistem pangan.
Dukungan pembiayaan yang disiapkan BTN mencapai Rp3 triliun. Nilai itu bukan hanya untuk kredit modal kerja, tetapi juga menopang layanan transaksi yang menyentuh rantai ekosistem pangan ID FOOD.
Dari Pemberi Kredit Jadi Mitra Transaksi
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menyebut kerja sama dengan ID FOOD tidak lagi diarahkan hanya pada penyediaan kredit. BTN ingin masuk ke aktivitas bisnis harian ID FOOD.
"Financing is only the beginning. BTN ingin melangkah lebih jauh, dari sekadar financing partner menjadi transactional banking partner yang hadir dalam aktivitas bisnis ID FOOD. Peran tersebut mencakup layanan collection, payment, liquidity management, hingga trade transaction. Termasuk kebutuhan finansial pegawai dan mitra ID FOOD," kata Nixon.
Peran baru itu menjangkau transaksi, pembayaran, hingga kebutuhan finansial mitra usaha ID FOOD. Artinya, aliran dana di rantai pangan bisa terhubung langsung dengan layanan perbankan BTN.
Mengapa ID FOOD Dipandang Strategis
Nixon menilai ID FOOD punya posisi strategis sebagai Holding BUMN Pangan. Perannya tidak berhenti di produksi, tetapi juga sebagai offtaker hasil pertanian, peternakan, dan perikanan.
Peran itu mencakup proses pengolahan, perdagangan, sampai distribusi pangan. Efek berantainya luas, dari petani, peternak, nelayan, supplier, distributor, merchant UMKM, hingga konsumen.
"ID FOOD memiliki multiplier effect yang luas terhadap berbagai pelaku ekonomi. Mulai dari petani, peternak, nelayan, supplier, distributor, merchant UMKM, hingga konsumen," ujar Nixon.
Tekanan Harga Pangan Jadi Latar Belakang
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang 13,10% terhadap produk domestik bruto Indonesia. Sektor itu menjadi salah satu penopang utama struktur ekonomi nasional.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, pada Agustus 2026 inflasi nasional tercatat 0,21% secara month-to-month. Komponen volatile food justru mengalami inflasi 0,88% mtm.
Artinya, tekanan harga pangan jauh lebih tinggi dibandingkan inflasi umum. Kondisi itu menggambarkan besarnya pengaruh pangan terhadap daya beli masyarakat dan stabilitas harga.
"Food security is economic security," ujar Nixon.
Ketersediaan, keterjangkauan, dan kelancaran distribusi pangan pun tidak hanya soal sektor pangan. Ketiganya berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi nasional.
Yang Dikejar BTN dari Kerja Sama Ini
Nixon memastikan BTN ingin memperkuat ekosistem strategis tersebut agar semakin efficient, connected, dan scalable. Pendekatan itu sejalan dengan bisnis inti BTN di sektor perumahan dan pembiayaan rakyat.
Bagi ID FOOD, masuknya BTN sebagai mitra transaksi membuka akses likuiditas yang lebih rapat dengan aktivitas harian. Pembayaran ke supplier, penagihan dari distributor, hingga pengelolaan kas mitra bisa berjalan dalam satu jaringan.
Langkah BTN menyiapkan Rp3 triliun menempatkan bank pelat merah itu tidak sekadar sebagai pemberi kredit, melainkan bagian dari infrastruktur keuangan pangan nasional. Jika berjalan sesuai rencana, aliran dana di rantai pangan ID FOOD berpotensi lebih cepat dan terukur.