BENGKULU — Laporan terbaru dari tim keamanan Google mengungkap modus penyerangan yang justru memanfaatkan teknik lama: panggilan telepon ke nomor pribadi karyawan. Dalam laporan yang dirilis Kamis (13/2), para peretas menyamar sebagai rekan kerja atau staf IT untuk mengelabui korban agar menyerahkan kredensial akun dan kode verifikasi dua langkah (2FA) melalui situs palsu. Di dunia keamanan siber, metode ini dikenal sebagai voice phishing atau vishing.
Reuters melaporkan bahwa sejumlah nama besar di industri investasi global disebut menjadi korban, termasuk Apollo Global Management, Bain Capital, Blackstone, Bridgewater Associates, CME Group, KKR, Moody's, dan TPG. Google sendiri tidak menyebutkan nama korban secara spesifik dalam laporan publiknya.
Target Utama: Data Klien VIP dan Aset Bernilai Tinggi
Menurut analisis Google, kelompok peretas ini tidak hanya menyerang sektor keuangan. Sebelumnya, mereka juga membidik perusahaan manufaktur, real estate, layanan kesehatan, asuransi, hingga perusahaan teknologi dan transportasi. Sasaran utamanya adalah mencuri kekayaan intelektual, kode sumber perangkat lunak, atau data klien yang sangat sensitif.
Yang menarik, fokus serangan terbaru bergeser ke firma hukum dan institusi keuangan yang terlibat dalam merger, akuisisi, dan litigasi. Google menilai strategi ini dirancang untuk mendapatkan data korporat bernilai tinggi guna memaksimalkan tekanan saat memeras korban.
Ancaman Bocorkan Data dan Permintaan Tebusan
Beberapa kelompok yang diidentifikasi Google bahkan mengoperasikan situs publik untuk memamerkan hasil peretasan. Mereka mengancam akan membocorkan data curian jika korban tidak membayar tebusan. Salah satu situs tersebut menuliskan pernyataan yang terdengar profesional namun mengancam, "Kami melakukan setiap negosiasi dengan istilah profesional. Publikasi data Anda bukanlah solusi yang kami sukai; itu adalah konsekuensi dari penolakan untuk terlibat, penundaan yang disengaja, atau kegagalan untuk menghormati kesepakatan."
Besaran tebusan yang diminta bervariasi, mulai dari USD 750.000 hingga USD 3 juta (sekitar Rp 12,3 miliar hingga Rp 49,5 miliar) per korban. Google menemukan satu dompet kripto yang terkait dengan salah satu geng menerima aliran dana sekitar USD 10 juta dalam bitcoin selama beberapa bulan pertama tahun ini.
Kemungkinan Satu Jaringan Besar
Peneliti Google menduga keempat geng tersebut—Falcon, Helix, Pink, dan Redact—mungkin berada di bawah satu organisasi payung yang mereka lacak dengan nama UNC6671. Meski demikian, belum jelas apakah mereka adalah afiliasi, kelompok pecahan, atau sekadar pengguna infrastruktur Phishing-as-a-Service yang sama.
"Kami meyakini ini kemungkinan besar mencerminkan kelompok aktor ancaman yang terkoordinasi dan mengoperasikan beberapa merek pemerasan publik, mungkin untuk memisahkan operasi, menyembunyikan volume pelanggaran secara keseluruhan, dan mengisolasi dampak negosiasi," demikian bunyi laporan tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, CME Group menolak berkomentar, sementara Apollo Global Management, Bain Capital, Blackstone, Bridgewater Associates, KKR, Moody's, dan TPG belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi.