Pencarian

Plt Bupati Rejang Lebong Instruksikan OPD Jemput Dana Pusat, Defisit APBD Capai Rp 42 Miliar

Jumat, 26 Juni 2026 • 11:29:02 WIB
Plt Bupati Rejang Lebong Instruksikan OPD Jemput Dana Pusat, Defisit APBD Capai Rp 42 Miliar
Plt Bupati Rejang Lebong Hendri Praja memimpin rapat koordinasi penanganan defisit APBD sebesar Rp 42 miliar.

REJANG LEBONG — Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong saat ini tengah berupaya keras menekan defisit APBD yang mencapai Rp 42 miliar. Plt Bupati Hendri Praja menegaskan bahwa prioritas utama tahun ini adalah memulihkan kesehatan fiskal daerah agar roda pemerintahan bisa bergerak lebih lincah.

"Jika neraca keuangan kita sehat, pergerakan pemerintah daerah akan lebih lincah," kata Hendri dalam rapat koordinasi pelaksanaan program dan kegiatan Pemkab Rejang Lebong Tahun 2026, Kamis.

Hendri menginstruksikan jajarannya untuk tidak lagi pasif menunggu anggaran. Para kepala OPD diminta cermat dan agresif dalam menjemput dana alokasi dari pusat maupun provinsi. Beberapa peluang pendanaan yang dinilai potensial untuk dibidik antara lain Inpres Jalan Daerah (IJD) serta Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk sektor jalan, air bersih, irigasi, dan penerangan jalan umum (PJU).

Target Pembiayaan Infrastruktur dan Pelayanan Publik

Dalam rapat tersebut, Hendri juga menyoroti sejumlah persoalan yang kerap dikeluhkan masyarakat. Ia memerintahkan dinas terkait untuk menindak tegas pangkalan elpiji nakal yang diduga menjadi penyebab kelangkaan gas bersubsidi di wilayah tersebut. Pemkab juga akan merumuskan skema penambahan agen atau distributor resmi untuk mengatasi distribusi yang tersendat.

"Pemerintah pusat sebenarnya menunggu program dari kita. Jika tidak berinovasi, pembangunan daerah akan jalan di tempat," tegas Hendri.

Grup Koordinasi Digital di 15 Kecamatan

Untuk mempercepat respons terhadap keluhan warga, Hendri meminta jajaran sekretaris daerah, asisten, dan para camat untuk segera membentuk grup koordinasi digital berbasis kecamatan. Jaringan ini akan menjangkau 15 kecamatan di Rejang Lebong.

Melalui grup tersebut, setiap laporan darurat warga—mulai dari masalah kesehatan, BPJS, hingga administrasi sekolah—diharapkan bisa langsung diteruskan dan dieksekusi oleh OPD teknis terkait tanpa birokrasi yang berbelit. "Masyarakat membutuhkan solusi cepat," tambahnya.

Optimisme Tata Kelola: Dari Zona Hijau MCP hingga Target WTP

Meskipun tahun ini gagal meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan, Hendri mengapresiasi capaian Monitoring Center for Prevention (MCP) dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang kini sudah berada di zona hijau. Ia menargetkan peningkatan pada indikator tata kelola pemerintahan tahun depan, termasuk penilaian Ombudsman, SAKIP, dan capaian Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

"Kita harus memiliki sense of belonging terhadap pembangunan daerah ini dan membuang ego sektoral," pungkasnya.

Bagikan
Sumber: bengkulu.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks