BENGKULU — Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mengonfirmasi proses konsolidasi perusahaan asuransi pelat merah tengah berjalan. Ketua Umum AAUI Budi Herawan mengungkapkan, tahap awal konsolidasi sudah dimulai dengan menggandeng konsultan dan ditargetkan rampung pada 31 Juli 2026.
"Proses awalnya per 31 Juli 2026 sudah harus selesai dengan menggandeng konsultan, kemudian proses berikutnya ke September 2026 sudah harus masuk tahap merger hingga akhir tahun ini," ujar Budi dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Rabu (17/6).
Budi menambahkan, seluruh proses konsolidasi ditargetkan berlaku penuh pada Januari 2027. Namun, ia mengaku belum mengetahui perusahaan mana yang akan menjadi induk atau "cangkang" dari penggabungan ini.
"Nanti siapa yang akan menjadi cangkang atau lainnya, itu masih belum kelihatan hilalnya," katanya.
Pre-Kick Off Proyek Denver Sudah Berlangsung
Wakil Ketua AAUI Bidang Statistik, Riset, dan Analisis Heri Supriyadi yang juga menjabat Chief Compliance and Risk Officer di PT BRI Asuransi Indonesia membenarkan adanya pertemuan awal proyek konsolidasi. Pertemuan pre-kick off digelar pada Senin (15/6) pekan lalu.
"Senin itu ada acara pre-kick off proyek tentang merger atau proyek denver. Kami (BRI Insurance) termasuk yang ikut," ujar Heri.
Ia menjelaskan, proyek ini membagi delapan stream line kerja yang akan menjadi dasar diskusi antar perusahaan. Tahap selanjutnya adalah menentukan konsultan yang akan mengkaji bentuk merger.
OJK Awasi Proses, Transfer Portofolio Jadi Tantangan
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menerima penyampaian rencana konsolidasi dari BPI Danantara. Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono mengatakan, rencana tersebut mencakup konsolidasi asuransi umum konvensional, asuransi jiwa, hingga asuransi syariah melalui akuisisi dan transfer portofolio bisnis.
OJK mendukung langkah ini sepanjang sesuai ketentuan dan melindungi pemegang polis. "Kami terus berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan guna memastikan proses konsolidasi berjalan terukur," kata Ogi dalam konferensi pers, Jumat (5/6).
Budi Herawan mengingatkan, konsolidasi perusahaan asuransi bukan perkara mudah. Transfer portofolio, khususnya di lini asuransi penjaminan, menjadi tantangan tersendiri. Ia menduga PT Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo) bakal menjadi cangkang untuk sektor penjaminan.
"Ada beberapa perusahaan asuransi BUMN memang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Apakah akan mendapat suntikan modal atau setelah merger baru dilakukan? Kami juga masih belum tahu," tuturnya.
Proses spin-off unit usaha syariah di industri perasuransian yang harus rampung akhir 2026 juga menjadi pekerjaan rumah yang beririsan dengan jadwal konsolidasi ini.