BENGKULU — Liputan6.com, Jakarta - Perubahan format Piala Dunia 2026 bukan sekadar soal jumlah peserta. Keputusan FIFA membuka keran lolosnya delapan peringkat tiga terbaik menciptakan peta persaingan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bagi tim-tim yang selama ini hanya menjadi penggembira di fase grup, ini adalah tiket emas yang tak boleh disia-siakan.
Daftar 20 Negara yang Berpeluang Cetak Sejarah
Setidaknya ada 20 negara yang masuk dalam daftar calon pencetak sejarah. Mereka adalah tim yang belum pernah sekalipun menembus babak gugur Piala Dunia sepanjang partisipasi mereka. Kuartet debutan — Curacao, Tanjung Verde, Yordania, dan Uzbekistan — menjadi yang paling bersemangat menyambut peluang ini.
Republik Ceko (sebagai negara independen), Afrika Selatan, Kanada, Qatar, dan Bosnia-Herzegovina juga masuk dalam daftar. Nama lain yang patut diwaspadai adalah Skotlandia, Haiti, Pantai Gading, Tunisia, Selandia Baru, Iran, Mesir, Irak, Republik Demokratik Kongo, serta Panama. Mereka semua sadar: finis di posisi ketiga bukan lagi akhir dari perjalanan.
Bagan Babak Gugur: Nasib Ditentukan Sebelum Turnamen
Klasemen khusus peringkat tiga terbaik ini akan menentukan siapa yang melaju. Delapan tim teratas dari 12 grup akan bertarung di babak 32 besar. Namun, lawan yang mereka hadapi sudah ditentukan berdasarkan kalkulasi sebelum turnamen dimulai, bukan undian dadakan.
Contohnya, peringkat tiga terbaik yang lolos dari Grup A/B/C/D/F akan berhadapan dengan juara Grup E. Sementara itu, peringkat tiga dari Grup C/D/F/G/H harus bersiap meladeni juara Grup I. Pola ini membuat setiap tim harus cermat membaca peta persaingan sejak pertandingan pertama.
Grup A: Meksiko, Afrika Selatan, Korea Selatan, dan Republik Ceko
Salah satu grup yang menyita perhatian adalah Grup A yang dihuni Meksiko, Afrika Selatan, Korea Selatan, dan Republik Ceko. Meksiko sebagai tim kuat diprediksi akan mendominasi, namun perebutan posisi kedua dan ketiga diprediksi berlangsung sengit. Bagi Republik Ceko dan Afrika Selatan, finis ketiga bukanlah mimpi buruk — asalkan catatan gol dan poin mereka cukup bersaing di klasemen antar-grup.
Strategi Baru: Finis Ketiga Bukan Lagi Kegagalan
Konsekuensi dari format ini jelas: tim-tim yang biasanya bermain aman untuk mengamankan posisi kedua kini punya opsi baru. Pelatih bisa mengambil risiko lebih besar karena finis ketiga pun masih menyisakan harapan. Ini mengubah cara pandang terhadap fase grup — setiap gol dan selisih gol menjadi krusial, bahkan bagi tim yang sudah dipastikan tidak bisa menjadi juara atau runner-up grup.
Piala Dunia 2026 akan menjadi ajang pembuktian bahwa peluang tidak selalu datang dari posisi puncak. Bagi 20 negara yang belum pernah merasakan fase gugur, inilah saatnya menulis ulang sejarah mereka sendiri.