BENGKULU — Unit Penunjang Akademik Bimbingan dan Konseling (UPA-BK) Unib menggelar workshop pengayaan program bagi 80 peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, serta perwakilan Universitas Muhammadiyah Bengkulu, Universitas Dehasen Bengkulu, dan Universitas Prof. Dr. Hazairin.
Layanan Baru yang Butuh Penguatan SDM
Kepala UPA-BK Unib, Yessilia Osira, mengungkapkan bahwa unit ini baru berdiri pada tahun 2025. Penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi prioritas agar layanan konseling bisa berjalan profesional.
“Pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti sebagai materi pelatihan, tetapi dapat diterjemahkan menjadi sikap, prosedur kerja, dan layanan nyata bagi sivitas akademika,” kata Yessilia.
Materi dari Dasar Konseling hingga Rencana Tindak Lanjut
Workshop membekali peserta dengan berbagai keterampilan, mulai dari dasar-dasar konseling, komunikasi terapeutik, mendengar aktif, hingga prinsip etika layanan dan penyusunan rencana tindak lanjut konseling.
Rektor Unib, Prof. Dr. Indra Cahyadinata, menegaskan bahwa kampus bukan sekadar tempat belajar dan meneliti, melainkan ruang kehidupan dengan berbagai tekanan yang dihadapi setiap individu.
“Layanan UPA-BK harus dapat diakses tanpa stigma, diselenggarakan secara profesional, serta terus diperbaiki berdasarkan kebutuhan nyata dan evaluasi yang bertanggung jawab,” ujarnya dalam sambutan.
Kolaborasi dengan Universitas Esa Unggul
Pada kesempatan yang sama, Unib dan Universitas Esa Unggul Jakarta menandatangani nota kesepahaman (MoU). Kerja sama ini mencakup pelatihan lanjutan, supervisi, penelitian, pengabdian masyarakat, hingga pengembangan model layanan konseling yang sesuai dengan karakteristik perguruan tinggi dan masyarakat Bengkulu.
Unib optimistis kolaborasi ini mampu mendorong peningkatan kualitas layanan kesehatan mental sekaligus menciptakan lingkungan akademik yang lebih sehat, produktif, dan mendukung kesejahteraan seluruh sivitas akademika.