Pencarian

BI Rate Naik ke 5,5%, BTN Peringatkan Dampak ke Biaya KPR dan Pendanaan Perusahaan

Selasa, 09 Juni 2026 • 21:12:31 WIB
BI Rate Naik ke 5,5%, BTN Peringatkan Dampak ke Biaya KPR dan Pendanaan Perusahaan
Kenaikan BI Rate ke 5,5% berpotensi meningkatkan biaya KPR dan pendanaan perusahaan.

BENGKULU — Kenaikan suku bunga acuan menjadi 5,5% otomatis mendorong suku bunga kredit, termasuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang menjadi lini bisnis utama BTN. Chief Economist BTN, Myrdal Gunarto, mengatakan langkah BI ini merupakan respons atas meningkatnya volatilitas pasar keuangan global, terutama akibat eskalasi ketegangan geopolitik dan pergeseran arus modal internasional.

"Kami memandang langkah tersebut sebagai upaya antisipatif Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengurangi risiko tekanan eksternal yang dapat berdampak pada inflasi domestik maupun stabilitas sistem keuangan," ujar Myrdal kepada media, Selasa (9/6/2026).

Menurutnya, pelemahan rupiah dalam beberapa pekan terakhir meningkatkan risiko imported inflation, khususnya pada sektor yang bergantung pada bahan baku dan komponen impor. Sektor properti dan konstruksi menjadi salah satu yang paling rentan karena harga material bangunan impor ikut terkerek naik.

Bauran Kebijakan Moneter Diperkuat

Tak hanya menaikkan BI Rate, BI juga menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,50% dan Lending Facility menjadi 6,25%. Untuk memperkuat daya tarik aset domestik, BI menggenjot imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), memberikan insentif swap lindung nilai bagi investor asing, serta membuka kembali fasilitas repurchase agreement (repo) demi menjaga likuiditas perbankan.

Langkah ini diharapkan mampu mengerem pelemahan rupiah dan menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali. Namun, Myrdal mengingatkan bahwa kenaikan suku bunga acuan berpotensi menekan sektor-sektor yang sensitif terhadap biaya pendanaan dan daya beli masyarakat.

Prospek Ekonomi 2026 dan Sektor Penopang

Meski ada tekanan dari sisi moneter, fundamental ekonomi domestik dinilai masih kuat. Myrdal memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada di kisaran 5,2% sepanjang 2026. Sektor-sektor yang ditopang aktivitas domestik, seperti pembangunan infrastruktur, perumahan, ketahanan pangan, energi, hilirisasi, serta ekspor sumber daya alam, diperkirakan menjadi motor utama.

"Dengan dukungan aktivitas investasi dan intermediasi perbankan yang tetap terjaga, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan masih dapat berada pada kisaran 5,2% pada tahun ini," ujarnya.

Ke depan, ruang penyesuaian BI Rate akan sangat bergantung pada pergerakan nilai tukar rupiah, inflasi, arus modal asing, dan dinamika ekonomi global. Jika tekanan eksternal mereda dan stabilitas rupiah terjaga, peluang kenaikan suku bunga lanjutan diperkirakan terbatas. Namun, BI tetap akan mempertahankan fleksibilitas kebijakan untuk merespons perubahan pasar secara cepat dan terukur.

Bagikan
Sumber: liputan6.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks