BENGKULU — Manajemen IWIP mengungkapkan proses standardisasi pengadaan bahan baku itu kepada Nickel Producers Environmental Research Association (NiPERA), lembaga riset di bawah asosiasi produsen nikel global, Nickel Institute. Hal ini disampaikan dalam diskusi bertajuk "Responsible Downstreaming at Scale: Lessons from North Maluku" di Jakarta, Rabu (3/6).
Apa Itu Sertifikasi Nickel Mark?
Nickel Mark merupakan bagian dari The Copper Mark, lembaga yang menetapkan standar dan sertifikasi untuk praktik operasi mineral yang berkelanjutan. Sertifikasi ini menjadi bukti bahwa perusahaan menjalankan proses produksi yang bertanggung jawab, dari hulu ke hilir.
"Manajemen IWIP menyampaikan bahwa mereka sedang menjalani proses standardisasi pengadaan bahan baku yang bertanggung jawab melalui Nickel Mark," kata Executive Director NiPERA, Chris Schlekat. "Kami akan terus memantau proses yang dijalani IWIP dalam memenuhi standar Nickel Mark dan terbuka untuk berdialog mengenai perkembangan tersebut," imbuhnya.
Model Tata Kelola Kolaboratif dan Tantangan Energi
IWIP yang baru berusia delapan tahun ini dianggap masih 'muda' dalam urusan ESG. ESG Superintendent IWIP, Xiaolin Wang, menjelaskan bahwa kawasan tersebut dihuni oleh investor dari berbagai negara dengan regulasi dan kebutuhan pelanggan yang berbeda-beda.
"Karena itu, kami mengembangkan model pengelolaan kolaboratif antara IWIP dan para mitra. IWIP bertanggung jawab membangun fondasi ESG, sementara para mitra dan investor mengembangkan tim serta sistem manajemen ESG sesuai kebutuhan masing-masing," ujar Xiaolin.
Meski begitu, ia mengakui masih banyak dialog yang diperlukan untuk membentuk model tata kelola yang lebih baik. Saat ini, IWIP mulai mengembangkan energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin, serta mengolah sampah domestik menjadi listrik. Namun, sebagian besar kebutuhan energinya masih dipasok oleh pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara. Sebagai langkah awal, kawasan tersebut juga mulai menggunakan truk listrik untuk mendukung operasional.
Dua Teknologi Pengolahan, Dua Pasar Berbeda
Di dalam kawasan IWIP, terdapat dua fasilitas pengolahan utama. Pertama, fasilitas pirometalurgi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) yang memproduksi nickel pig iron (NPI) untuk bahan baku baja tahan karat. Kedua, fasilitas hidrometalurgi High Pressure Acid Leach (HPAL) yang menghasilkan mixed hydroxide precipitate (MHP), bahan baku utama baterai kendaraan listrik.
ESG Itu Perjalanan Panjang, Bukan Lompatan Pendek
Co-Head of Responsible Sourcing Glencore, Ilse Schooters, menegaskan bahwa praktik ESG yang baik adalah perjalanan panjang. Glencore, perusahaan pertambangan dan perdagangan komoditas multinasional asal Swiss yang juga anggota Nickel Institute, menilai banyak perusahaan besar butuh puluhan tahun untuk mengintegrasikan ESG dalam model bisnisnya.
"Yang menjadi tujuan bukan hanya pertumbuhan perusahaan semata, tapi juga pertumbuhan wilayah serta perekonomian masyarakat lokal," ujar Ilse. Dengan usia yang baru delapan tahun, IWIP dinilai masih memiliki waktu untuk terus mengejar target tersebut. Keberhasilan meraih sertifikasi Nickel Mark akan menjadi sinyal kuat bagi pasar global bahwa industri nikel Indonesia berkomitmen pada keberlanjutan.