BENGKULU — Pergeseran minat generasi muda terhadap alat musik modern membuat keberadaan instrumen tradisional asli Bengkulu semakin terpinggirkan. Alat-alat musik ini kini hanya dapat ditemui dalam upacara adat, acara kedaerahan, atau perhelatan pernikahan adat.
Kurangnya pengenalan sejak dini, baik dari lingkungan keluarga maupun sekolah, menjadi faktor utama mengapa anak muda tidak mampu memainkan alat musik warisan leluhurnya. Tanpa pengenalan yang cukup, mustahil seseorang bisa menguasai instrumen yang tidak ia kenali bentuk dan tekniknya.
Serunai: Tiupan Khas Suku Pekal dari Mukomuko
Serunai merupakan alat musik tiup tradisional yang berasal dari masyarakat Suku Pekal di Kabupaten Mukomuko. Instrumen ini merupakan perkembangan dari alat musik yang digunakan para pemikat ular tradisional di daratan India utara, yang awalnya diberi nama shehnai.
Berbeda dengan alat musik modern, Serunai hanya bisa dimainkan oleh satu orang. Bahan bakunya pun cukup unik, yakni bambu yang tumbuh di tepi sungai. Dalam tradisi masyarakat Pekal, Serunai mengiringi berbagai acara adat istiadat, mulai dari upacara pengantin hingga musik pengiring tari pedang.
Akordion: Warisan Musik Rejang Lebong yang Mulai Sepi Peminat
Kabupaten Rejang Lebong memiliki alat musik tradisional berbentuk persegi panjang yang terbuat dari kayu, kertas, alumunium, dan besi. Instrumen ini kerap digunakan dalam berbagai kegiatan adat masyarakat setempat.
Meski bentuknya mirip akordion modern, instrumen khas Rejang Lebong ini memiliki karakter suara yang berbeda dan menjadi identitas tersendiri dalam setiap pertunjukan musik tradisional di daerah tersebut.
Mengapa Generasi Muda Mulai Meninggalkan Musik Tradisional?
Kemudahan akses terhadap alat musik modern dan konten digital menjadi salah satu pemicu utama. Anak muda cenderung lebih tertarik mempelajari instrumen kekinian yang lebih sering terekspos di media sosial dibandingkan alat musik tradisional yang jarang muncul di ruang publik.
Selain itu, minimnya regenerasi pemain alat musik tradisional membuat keberadaan instrumen ini semakin langka. Padahal, upaya pelestarian tidak cukup hanya dengan menyimpan alatnya di museum, tetapi juga dengan menghidupkan kembali praktik memainkannya di tengah masyarakat.
Upaya Pelestarian yang Perlu Digalakkan
Peran keluarga dan institusi pendidikan menjadi kunci dalam mengenalkan kembali alat musik tradisional kepada generasi muda. Pengenalan ini bisa dilakukan melalui muatan lokal di sekolah maupun kegiatan ekstrakurikuler kesenian.
Pemerintah daerah juga diharapkan lebih sering menampilkan alat musik tradisional dalam berbagai even resmi, sehingga masyarakat kembali familiar dengan warisan budayanya sendiri. Tanpa langkah konkret, bukan tidak mungkin alat musik tradisional Bengkulu hanya akan menjadi catatan sejarah yang terlupakan oleh waktu.