BENGKULU — Pergeseran selera kuliner masyarakat membuat keberadaan bubur sekoi kian terpinggirkan. Makanan yang terbuat dari biji serealia kecil ini perlahan kehilangan tempat di tengah dominasi hidangan kekinian yang lebih praktis dan instan.
Padahal, bubur sekoi merupakan bagian dari kekayaan kuliner Bengkulu yang diwariskan secara turun-temurun. Cita rasanya yang lembut dan sederhana menjadi pengingat akan masakan rumahan khas masa lalu.
Biji Sekoi, Serealia Lokal yang Adaptif di Lahan Kering
Sekoi merupakan jenis serealia berbiji kecil yang di sejumlah daerah dikenal sebagai jewawut atau millet. Tanaman ini memiliki keunggulan karena mampu tumbuh pada kondisi lingkungan yang relatif kering.
Keunggulan tersebut menjadikan sekoi sebagai sumber pangan lokal yang menarik untuk dilihat dari sisi ketahanan pangan. Bijinya dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan, salah satunya bubur.
Proses Pengolahan yang Sederhana
Untuk membuat bubur sekoi, biji-biji tersebut terlebih dahulu dibersihkan sebelum dimasak hingga teksturnya menjadi lunak. Setelah matang, sekoi memiliki tekstur lembut yang cocok dijadikan bahan dasar bubur.
Pengolahannya yang relatif mudah membuat makanan ini dahulu menjadi pilihan masyarakat dalam menyajikan hidangan berbahan pangan lokal. Tidak dibutuhkan bahan-bahan rumit untuk mengolahnya menjadi santapan sehari-hari.
Cita Rasa Lembut yang Menguatkan Identitas Kuliner Daerah
Bubur sekoi umumnya memiliki cita rasa yang sederhana dan lembut. Dalam penyajiannya, bubur dapat dipadukan dengan bahan lain sehingga menghasilkan rasa yang sesuai dengan selera masyarakat setempat.
Kesederhanaan rasa tersebut justru menjadi daya tarik tersendiri. Hidangan ini mampu membangkitkan ingatan akan tradisi kuliner masa lalu yang sarat makna.
Mengapa Generasi Muda Perlu Mengenal Kembali Bubur Sekoi?
Tidak semua masyarakat, khususnya generasi muda, masih mengenal sekoi sebagai bahan pangan. Padahal, tanaman serealia ini telah lama dimanfaatkan di berbagai wilayah sebagai sumber pangan.
Keberadaan makanan berbahan sekoi menarik untuk diperkenalkan kembali, tidak hanya sebagai warisan kuliner, tetapi juga sebagai alternatif pangan lokal yang tangguh. Upaya mengenalkan kembali bubur sekoi menjadi langkah penting agar kekayaan kuliner Bengkulu tidak hilang ditelan zaman.