BENGKULU — Studi terbaru dari perusahaan kacamata Overnight Glasses mengungkap fakta mengejutkan tentang polusi cahaya di jalan raya. Dari data pengujian 257 model kendaraan yang dirilis Insurance Institute for Highway Safety (IIHS), pick-up truck ukuran penuh menjadi penyumbang silau terbesar. Posisi lampu yang tinggi sejajar dengan garis pandang pengemudi mobil lain menjadi biang keladi utamanya.
Yang menarik, studi ini tidak hanya mengukur intensitas cahaya mentah, tetapi juga memperhitungkan tinggi kendaraan. Hasilnya, indeks silau Nissan Titan menyentuh angka sempurna 100, mengungguli rival sekelasnya. Padahal jika hanya mengukur intensitas cahaya, BMW X5 sebenarnya lebih buruk dengan tingkat silau 677,8% di atas batas IIHS. Namun karena posisi lampu X5 lebih rendah, indeks silaunya justru lebih baik di angka 95,6.
Posisi Lampu dan Tinggi Mobil Kunci Utama Masalah Silau
Chevrolet Silverado 1500 dan Ram 1500 menempati posisi kedua dan ketiga dalam daftar kendaraan dengan silau terburuk. GMC Sierra 1500 menyusul di posisi kelima. Menariknya, Ford F-150 yang merupakan rival terberat Titan justru berada di peringkat ke-10, dengan indeks silau lebih rendah dibandingkan Ford Edge, Lincoln Nautilus, dan Kia Sedona.
Metodologi yang digunakan Overnight Glasses cukup sederhana namun solid. Mereka membandingkan data pengujian headlight dari IIHS dengan tinggi kendaraan. Semakin tinggi kendaraan, semakin dekat posisi lampu dengan mata pengemudi kendaraan lain, sehingga potensi silaunya semakin besar.
Regulasi Federal AS Dinilai Gagal Mengikuti Perkembangan Teknologi
Poin krusial yang ditekankan dalam studi ini adalah semua kendaraan yang masuk daftar hitam tersebut memenuhi standar federal. Artinya, konsumen tidak bisa berbuat banyak karena pabrikan tidak melanggar hukum apa pun. IIHS sendiri telah lama mengkritik aturan federal yang dinilai terlalu longgar dan tidak mampu menjamin penerangan jalan yang memadai di malam hari.
Kondisi ini diperparah dengan minimnya insentif bagi pabrikan untuk berinovasi. Selama regulasi tidak berubah dan produk mereka tetap laku, tidak ada urgensi untuk memperbaiki kualitas headlight. Padahal teknologi lampu adaptif yang mampu mengurangi silau tanpa mengorbankan penerangan sebenarnya sudah tersedia, hanya saja pengadopsiannya terhambat aturan yang kaku.
Bagi pengendara di Indonesia, temuan ini relevan mengingat banyaknya pick-up truck dan SUV tinggi yang melintas di jalan raya. Meski data ini spesifik untuk pasar Amerika Serikat, karakteristik desain kendaraan yang sama berpotensi menimbulkan masalah serupa di dalam negeri. Keluhan silau dari pengemudi mobil rendah terhadap lampu kendaraan tinggi kemungkinan akan terus berlanjut selama regulasi belum diperbarui.