Pencarian

KONI Bengkulu Tarik Atlet Sepatu Roda dan Biliar yang Membela Daerah Lain, Target Pindah September 2026

Kamis, 27 Agustus 2026 • 15:23:02 WIB
KONI Bengkulu Tarik Atlet Sepatu Roda dan Biliar yang Membela Daerah Lain, Target Pindah September 2026
Atlet sepatu roda asal Bengkulu yang selama ini membela daerah lain menjadi prioritas penarikan oleh KONI Provinsi Bengkulu.

BENGKULU — KONI Provinsi Bengkulu tengah mengkonsolidasikan pemindahan sejumlah atlet asal daerah yang selama ini berkarier di provinsi lain. Ketua KONI Bengkulu, Teuku Zulkarnain, menyebut proses transfer atlet sepatu roda dan biliar menjadi prioritas utama sebelum batas akhir pendaftaran atlet PON.

"Ini sedang kita konsolidasikan dengan DKI dan KONI DKI untuk proses pemindahan atlet ke Bengkulu. Kita berharap tahapannya berjalan lancar sehingga September ini sudah terjadi pemindahan atlet," ujar Teuku saat coffee morning bersama awak media di Kantor KONI Bengkulu, Kamis (27/8/2026).

Negosiasi Biaya Transfer dengan KONI DKI Jakarta

Teuku menjelaskan, proses penarikan atlet tidak serta-merta gratis. Pihaknya harus menyelesaikan sejumlah biaya kompensasi yang menjadi ketentuan dalam mekanisme transfer antar-KONI provinsi.

"Memang ada uang transfer yang harus kita bayar. Tetapi karena keinginan kita kuat, kita negosiasi berapa biaya yang harus kita keluarkan," katanya.

Ia menegaskan, pengeluaran anggaran untuk proses ini tetap diawasi ketat. Bagian hukum KONI dilibatkan untuk membuat nota dinas terkait proses administrasi dan pembayaran agar tidak melanggar aturan.

Atlet Berprestasi yang Belum Pernah Membela Bengkulu

Ketua KONI menyoroti fenomena atlet asal Bengkulu yang justru mengharumkan nama daerah lain. Salah satunya atlet sepatu roda yang pernah mempersembahkan emas untuk Papua dan Aceh, tetapi belum pernah bertanding untuk Bengkulu.

"Ini orang Bengkulu, tetapi tidak pernah bertanding untuk Bengkulu. Pernah mempersembahkan emas untuk Papua, untuk Aceh, tetapi belum pernah untuk Bengkulu. Karena itu kita tarik kembali," jelasnya.

Selain sepatu roda, KONI juga membidik atlet biliar asal Kepahiang atau Curup yang selama ini membela Jawa Barat. Namun, proses pemindahan atlet biliar terkendala kondisi organisasi cabang olahraga yang belum berjalan baik.

"Kita tidak bisa main-main. Kalau kita memberikan bantuan sementara organisasi cabangnya berantakan, siapa yang bertanggung jawab terhadap uangnya?" kata Teuku.

Prioritas Atlet Lokal Sebelum Naturalisasi

KONI Bengkulu tidak berhenti pada dua cabang olahraga tersebut. Wushu dan MMA juga menjadi sasaran penarikan atlet yang selama ini berkarier di luar daerah.

"Prioritas kita adalah anak-anak Bengkulu kembali ke Bengkulu dan memperkuat Bengkulu. Setelah itu baru kita lihat yang lain-lain, termasuk kemungkinan naturalisasi atau atlet dari luar," ujarnya.

Reward Atlet Dilarikan ke Rekening, Tanpa Amplop

Di sisi lain, Teuku memastikan pemberian penghargaan kepada atlet, pelatih, dan ofisial berprestasi ke depan dilakukan secara transparan. Seluruh reward akan ditransfer langsung ke rekening penerima dan disaksikan secara terbuka.

"Tidak ada lagi pakai amplop. Nanti langsung ke rekening atlet dan disaksikan. Tidak ada pengurus yang meminta apa-apa. Semuanya bekerja untuk atlet," tegasnya.

Skema penghargaan juga dipisah antara atlet, pelatih, dan ofisial. Jika atlet peraih emas mendapat Rp1 miliar, nominal tersebut tidak akan dikurangi. Pelatih dan ofisial mendapatkan penghargaan sendiri di luar angka tersebut.

"Yang atletnya jangan diganggu lagi Rp1 miliar itu. Pelatihnya dapat sendiri, ofisialnya juga dapat sendiri. Jadi sebenarnya dari satu prestasi itu nilainya bisa lebih dari Rp1 miliar," jelasnya.

Follow porosbengkulu.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: wordpers.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks