Pencarian

Wabup Asahan Rianto Tinjau Budidaya Maggot dari Limbah Makanan di Pesantren Darul Falah, Ini Manfaatnya untuk Pakan Ternak

Senin, 10 Agustus 2026 • 17:24:01 WIB
Wabup Asahan Rianto Tinjau Budidaya Maggot dari Limbah Makanan di Pesantren Darul Falah, Ini Manfaatnya untuk Pakan Ternak
Wakil Bupati Asahan, Rianto, meninjau budidaya maggot dari limbah makanan di Pesantren Darul Falah, Aek Songsongan, Sabtu (8/8/2026).

ASAHAN — Sisa makanan dari dapur pesantren yang selama ini hanya menjadi sampah organik, kini diubah menjadi media budidaya maggot yang bernilai ekonomi. Inovasi ini digagas oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pengabdian kepada Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) 2026 di Desa Aek Songsongan.

Wakil Bupati Asahan, Rianto, meninjau langsung proses pengolahan tersebut di Pesantren Darul Falah, Kecamatan Aek Songsongan, Sabtu (8/8/2026). Ia hadir bersama jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemkab Asahan, pengurus pesantren, serta perwakilan PT Inalum yang memfasilitasi kehadiran mahasiswa di kabupaten itu.

Maggot Hasil KKN UGM Jadi Solusi Pakan Ternak Murah

Dalam peninjauan itu, Rianto melihat sendiri bagaimana maggot yang dihasilkan dari limbah makanan digunakan sebagai pakan tambahan untuk ternak bebek milik warga sekitar. Konsep ini dinilai sederhana namun menjawab dua persoalan sekaligus: mengurangi sampah organik dan menekan biaya pakan ternak.

Muhammad Ghazalah Anwar, mahasiswa KKN UGM yang ditempatkan di Desa Aek Songsongan, menjelaskan program tersebut dirancang agar masyarakat bisa mandiri setelah masa pengabdian selesai.

"Dengan konsep ini, sampah organik punya nilai ekonomi. Harapannya warga bisa melanjutkan setelah program KKN selesai," jelas Ghazalah.

Wabup: Langkah Sederhana yang Berdampak Besar

Rianto mengapresiasi kontribusi mahasiswa UGM dan peran PT Inalum dalam menghadirkan program ini ke Asahan. Menurutnya, kolaborasi kampus dan masyarakat mampu melahirkan solusi ramah lingkungan yang memiliki nilai tambah.

"Kami sangat mengapresiasi gagasan mahasiswa KKN UGM. Limbah makanan yang tadinya tidak terpakai sekarang bisa menjadi pakan. Ini langkah sederhana namun berdampak besar jika dilakukan berkelanjutan," ujar Rianto.

Budidaya maggot dinilai menjadi salah satu solusi yang mudah diterapkan di tingkat rumah tangga maupun pesantren. Selain tidak membutuhkan lahan luas, siklus hidup maggot yang cepat membuat produksi pakan ternak bisa berjalan dalam waktu singkat.

Target Keberlanjutan Program Setelah KKN Selesai

Rianto berharap kehadiran mahasiswa KKN tidak hanya meninggalkan kegiatan seremonial, tetapi juga transfer pengetahuan dan keterampilan yang bisa dipraktikkan warga secara mandiri. Ia ingin manfaat program ini terus dirasakan dalam jangka panjang.

"Dengan adanya pengetahuan dan keterampilan yang bisa diterapkan secara mandiri, manfaat KKN akan terus dirasakan masyarakat meski program mahasiswa telah selesai," pungkasnya.

Program ini menjadi salah satu contoh pengelolaan sampah organik berbasis pemberdayaan masyarakat yang tengah didorong di daerah-daerah penghasil limbah rumah tangga di Sumatera Utara.

Follow porosbengkulu.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: mediabengkulu.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks