Pencarian

Mesin Giling Padi di Seluma Bengkulu Berhenti Berputar, Tergerus Kelangkaan Solar dan Perubahan Kebiasaan Petani

Senin, 03 Agustus 2026 • 11:34:31 WIB
Mesin Giling Padi di Seluma Bengkulu Berhenti Berputar, Tergerus Kelangkaan Solar dan Perubahan Kebiasaan Petani
Mesin penggilingan padi milik Nurbidin Ahyan di Desa Padang Sialang, Seluma, Bengkulu, berhenti beroperasi setelah enam bulan terakhir.

SELUMA — Suara deru mesin penggilingan padi yang selama puluhan tahun menghiasi halaman rumah Nurbidin Ahyan di Desa Padang Sialang, Kecamatan Semidang Alas Maras, Kabupaten Seluma, Bengkulu, kini senyap. Usaha yang menjadi sumber nafkah keluarganya itu terpaksa berhenti beroperasi dalam enam bulan terakhir.

Penyebabnya ganda. Di satu sisi, solar sebagai bahan bakar mesin semakin sulit didapat. Di sisi lain, kebiasaan petani menyimpan gabah di tengkiang atau gudang perlahan ditinggalkan.

"Kami harus menutup usaha mesin penggilingan padi yang menjadi sumber pendapatan keluarga selama puluhan tahun. Tutupnya mesin penggilingan padi karena sulit mendapatkan solar serta ada pola hidup petani padi yang berubah," kata Nurbidin kepada Kompas.com, Jumat (14/2/2025).

Petani Lebih Pilih Uang Tunai daripada Menyimpan Gabah

Nurbidin menuturkan, perubahan pola petani menjadi pukulan terbesar bagi usahanya. Dahulu, hampir setiap rumah petani memiliki persediaan gabah yang disimpan di gudang atau tengkiang. Saat membutuhkan beras untuk konsumsi atau dijual, gabah dikeluarkan, dijemur, lalu dibawa ke penggilingan.

"Ada yang berubah pola petani padi, kalau dulu mereka ambil padi dari gudang atau tengkiang lalu dijemur dan digiling. Saat gabah sudah menjadi beras baru petani jual beras kalau memerlukan uang dan konsumsi," jelasnya.

Kini kebiasaan itu nyaris hilang. Begitu musim panen tiba, sebagian besar petani langsung menjual gabah basah kepada pembeli yang datang ke desa.

Pembeli dari Lampung dan Sumsel Serap Gabah Petani

Menurut Nurbidin, perusahaan pengemasan beras dari Lampung dan Sumatera Selatan aktif membeli gabah petani di wilayahnya. Gabah tersebut kemudian diolah menjadi beras bermerek untuk didistribusikan ke berbagai daerah.

"Jadi ketika panen semua gabah dijual kepada pembeli dari perusahaan pengemasan beras asal Lampung dan Sumsel. Petani lebih menyukai uang tunai ketimbang menyimpan gabah seperti dulu," katanya.

Pilihan petani tersebut memang masuk akal secara ekonomi. Uang tunai yang diterima langsung setelah panen dianggap lebih praktis untuk memenuhi kebutuhan harian dibandingkan harus menunggu proses penjemuran dan penggilingan.

Kelangkaan Solar Memperparah Kondisi Penggilingan

Di tengah berkurangnya pelanggan, pengusaha penggilingan padi di Bengkulu juga dihadapkan pada kesulitan memperoleh solar. Padahal, mesin penggilingan membutuhkan bahan bakar dalam jumlah besar untuk beroperasi setiap hari.

Nurbidin mengaku, antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar umum dan kuota solar bersubsidi yang terbatas membuat biaya operasional membengkak. Jika pun mendapat solar, harganya tidak lagi sesuai dengan margin usaha penggilingan skala kecil.

Dua tekanan itu akhirnya memaksa mesin penggilingan padi di Desa Padang Sialang berhenti total. Padahal, usaha tersebut selama puluhan tahun menjadi penopang ekonomi keluarga dan melayani kebutuhan puluhan petani di sekitar desa.

Nasib Penggilingan Padi Skala Kecil di Tengah Industrialisasi

Kisah Nurbidin menggambarkan pergeseran struktur usaha pertanian di Bengkulu. Penggilingan padi skala kecil yang dulu menjadi urat nadi ekonomi desa kini tergerus oleh rantai pasok modern yang dikendalikan perusahaan besar.

Petani tidak lagi membutuhkan jasa penggilingan karena mereka tidak menyimpan gabah. Sementara perusahaan pengemasan beras memiliki mesin giling sendiri dengan kapasitas jauh lebih besar dan efisiensi tinggi.

Kondisi ini diperparah kebijakan distribusi solar bersubsidi yang belum sepenuhnya menjangkau usaha mikro di pedesaan. Akibatnya, pengusaha penggilingan padi skala kecil seperti Nurbidin terjepit di antara dua arus: kehilangan pelanggan dan kesulitan bahan bakar.

Belum ada kepastian kapan usaha penggilingan padi di Desa Padang Sialang akan kembali beroperasi. Nurbidin hanya bisa berharap ada solusi dari pemerintah, baik terkait kelancaran distribusi solar maupun kebijakan yang melindungi usaha pengolahan padi skala kecil di daerah.

Follow porosbengkulu.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: regional.kompas.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks