Rupiah Melemah ke 17.541 per Dolar AS, Tekanan Global dan Kebutuhan Dolar Meningkat

Penulis: Ricki Manurung  •  Rabu, 13 Mei 2026 | 11:00:01 WIB
Rupiah melemah ke level 17.541 per dolar AS di tengah tekanan global dan kebutuhan dolar yang meningkat.

BENGKULURupiah dibuka menguat 13 poin di level 17.515 per dolar AS, namun terus merosot hingga mencapai level terendah baru. Data dari Bloomberg menunjukkan bahwa rupiah melemah 0,08% pada perdagangan hari ini, setelah melemah 0,34% pada sesi sebelumnya. Kondisi ini sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang juga mengalami penurunan terhadap dolar AS.

Pergerakan Mata Uang Asia di Tengah Ketidakpastian Global

  • Rupee India melemah 0,34%
  • Won Korea Selatan melemah 0,29%
  • Peso Filipina melemah 0,03%
  • Yen Jepang melemah 0,04%
  • Dolar Singapura melemah 0,01%
  • Baht Thailand menguat 0,17%
  • Ringgit Malaysia menguat 0,12%
  • Yuan Cina menguat 0,06%

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh situasi geopolitik yang memanas di Timur Tengah, yang berdampak pada harga minyak dan ketidakpastian global. Ia menambahkan, peningkatan kebutuhan dolar AS secara musiman untuk pembayaran utang luar negeri, dividen, dan pembayaran ibadah haji turut berkontribusi pada tekanan ini.

Langkah BI untuk Stabilkan Nilai Tukar Rupiah

Destry menegaskan bahwa Bank Indonesia akan terus berkomitmen untuk melakukan intervensi cerdas di pasar, baik di pasar spot, DNDF, maupun NDF. "Kami juga akan mengoptimalkan penggunaan semua instrumen operasi moneter untuk mengurangi tekanan pada rupiah," ujarnya dalam keterangan resmi.

Dia juga mencatat bahwa kepercayaan investor asing terhadap aset portofolio Indonesia menunjukkan perbaikan. Hal ini terlihat dari aliran masuk modal asing ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Surat Repo Bank Indonesia (SRBI) yang mencapai Rp 61,6 triliun selama bulan April. Ketersediaan likuiditas valas di pasar domestik juga cukup tinggi, dengan pertumbuhan dana pihak ketiga valas yang mencapai 10,9% secara tahunan pada akhir Maret.

Proyeksi Stabilitas Nilai Tukar Rupiah ke Depan

BI memperkirakan bahwa tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda, sehingga nilai tukar rupiah dapat kembali ke level fundamentalnya. Hal ini diharapkan dapat memberikan angin segar bagi pelaku pasar dan investor dalam jangka pendek.

Penurunan nilai tukar rupiah ini menjadi perhatian bagi investor dan pelaku bisnis, mengingat dampaknya terhadap biaya impor dan pembayaran utang dalam dolar AS. Pengawasan yang ketat terhadap perkembangan pasar dan kebijakan moneter yang tepat akan menjadi kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Reporter: Ricki Manurung
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top