BENGKULU — Rupiah dibuka menguat 13 poin di level 17.515 per dolar AS, namun terus merosot hingga mencapai level terendah baru. Data dari Bloomberg menunjukkan bahwa rupiah melemah 0,08% pada perdagangan hari ini, setelah melemah 0,34% pada sesi sebelumnya. Kondisi ini sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang juga mengalami penurunan terhadap dolar AS.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh situasi geopolitik yang memanas di Timur Tengah, yang berdampak pada harga minyak dan ketidakpastian global. Ia menambahkan, peningkatan kebutuhan dolar AS secara musiman untuk pembayaran utang luar negeri, dividen, dan pembayaran ibadah haji turut berkontribusi pada tekanan ini.
Destry menegaskan bahwa Bank Indonesia akan terus berkomitmen untuk melakukan intervensi cerdas di pasar, baik di pasar spot, DNDF, maupun NDF. "Kami juga akan mengoptimalkan penggunaan semua instrumen operasi moneter untuk mengurangi tekanan pada rupiah," ujarnya dalam keterangan resmi.
Dia juga mencatat bahwa kepercayaan investor asing terhadap aset portofolio Indonesia menunjukkan perbaikan. Hal ini terlihat dari aliran masuk modal asing ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Surat Repo Bank Indonesia (SRBI) yang mencapai Rp 61,6 triliun selama bulan April. Ketersediaan likuiditas valas di pasar domestik juga cukup tinggi, dengan pertumbuhan dana pihak ketiga valas yang mencapai 10,9% secara tahunan pada akhir Maret.
BI memperkirakan bahwa tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda, sehingga nilai tukar rupiah dapat kembali ke level fundamentalnya. Hal ini diharapkan dapat memberikan angin segar bagi pelaku pasar dan investor dalam jangka pendek.
Penurunan nilai tukar rupiah ini menjadi perhatian bagi investor dan pelaku bisnis, mengingat dampaknya terhadap biaya impor dan pembayaran utang dalam dolar AS. Pengawasan yang ketat terhadap perkembangan pasar dan kebijakan moneter yang tepat akan menjadi kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.