JAKARTA — Kabut asap dari kebakaran hutan yang masih membara menyelimuti sejumlah daerah di Sumatra dan Kalimantan. Pemantauan IQAir menunjukkan konsentrasi partikel halus PM2.5 di Palembang mencapai 514,7 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Angka itu jauh di atas ambang batas yang dianggap aman bagi kesehatan warga.
Partikel PM2.5 berukuran sangat kecil sehingga bisa masuk jauh ke dalam paru-paru dan berpotensi mencapai aliran darah. Paparan dalam konsentrasi tinggi meningkatkan risiko iritasi mata, tenggorokan, hingga gangguan pernapasan. Warga yang punya penyakit bawaan berisiko mengalami perburukan kondisi.
Daftar Kota dengan Kualitas Udara Terburuk
Selain Palembang dan Kubu Raya, sejumlah kota lain mencatat indeks kualitas udara di level tidak sehat hingga berbahaya. Berikut rinciannya berdasarkan data IQAir:
- Palembang, Sumatra Selatan: 877 (berbahaya), PM2.5 514,7 µg/m³
- Kubu Raya, Sintang, Pangkalanbun, Kalimantan Barat: 1144 (berbahaya)
- Pekanbaru, Riau: 401 (berbahaya)
- Padang, Sumatra Barat: 227 (tidak sehat)
- Pontianak, Kalimantan Barat: 223 (sangat tidak sehat)
- Medan, Sumatra Utara: 205 (tidak sehat)
- Jambi: 198 (tidak sehat)
- Lampung: 158 (tidak sehat)
- Balikpapan, Kalimantan Timur: kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif
- Banjarmasin, Kalimantan Selatan: kategori berbahaya
Kebakaran Hutan Masih Terjadi di Lima Provinsi
IQAir mencatat titik kebakaran hutan masih aktif di Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat. Intensitas kebakaran berada pada tahap rendah, sedang, hingga tinggi. Api yang belum padam membuat kabut asap pekat terus menyelimuti sejumlah daerah di Borneo.
Di Sumatra, kondisi serupa berdampak pada kota-kota besar seperti Palembang, Pekanbaru, Padang, Medan, dan Jambi. Indeks udara di wilayah-wilayah itu masuk kategori tidak sehat hingga berbahaya bila terus dihirup masyarakat.
Siapa Paling Rentan Terdampak?
Tingkat risiko kesehatan bergantung pada kategori AQI, konsentrasi polutan, serta lamanya paparan. Kelompok sensitif seperti anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit pernapasan atau jantung perlu lebih berhati-hati saat beraktivitas di luar ruangan.
Masyarakat disarankan memantau perkembangan kualitas udara secara berkala dan menyesuaikan aktivitas apabila tingkat pencemaran meningkat. Jika udara berada dalam kategori tidak sehat, mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan dapat membantu menekan paparan polutan.
Langkah Perlindungan di Rumah
Menutup jendela ketika udara luar tercemar menjadi langkah awal yang bisa dilakukan warga. Penggunaan penyaring udara dalam ruangan juga dapat menjadi perlindungan tambahan, terutama bagi keluarga dengan bayi atau anggota lanjut usia.
Warga di wilayah terdampak diminta tidak menganggap enteng gejala ringan seperti batuk, sesak, atau mata perih. Jika keluhan berlanjut, segera cari bantuan fasilitas kesehatan terdekat.