BENGKULU — Originality.ai menemukan lebih dari 20 persen ulasan hotel mewah pada 2025 dibuat oleh kecerdasan buatan, angka yang dua kali lipat dibanding 2022. Temuan ini penting bagi traveler yang biasa membaca ulasan sebelum memesan kamar, karena ulasan sintetis itu mayoritas bernada positif dan 57 persen di antaranya memberi peringkat lima bintang. Tanpa kewaspadaan, ulasan palsu bisa menutupi keluhan asli soal kebersihan, layanan, atau fasilitas penginapan.
Yang membuat temuan ini makin mengkhawatirkan, ulasan buatan mesin punya kecenderungan seragam: bernada positif. Sebanyak 57 persen di antaranya memberi peringkat lima bintang. Tujuannya jelas, memastikan calon tamu tidak pernah melihat umpan balik negatif soal properti yang dipromosikan.
Pujian Sintetis yang Menenggelamkan Keluhan Asli
Jack Charman, penyelidik swasta yang memimpin perusahaan intelijen di London, menyebut praktik ini sebagai upaya sistematis. "Industri ini menggunakan AI generatif untuk membanjiri ruang publik dengan pujian sintetis dan menenggelamkan keluhan yang sebenarnya," katanya.
Modusnya tidak berhenti di teks ulasan. Perusahaan akomodasi memakai AI untuk menghapus elemen yang mengganggu pada foto properti. Tiang listrik dan dinding bata bisa hilang hanya dengan satu klik dari daftar Airbnb. Pantai resor yang penuh pengunjung disunting lewat Photoshop sampai tampak sepi dan masih alami.
Rafay Baloch, CEO sekaligus pendiri REDSECLABS, perusahaan keamanan siber, menambahkan bahwa AI bisa mempromosikan hotel atau maskapai secara halus. Caranya dengan menyesuaikan tampilan situs web berdasarkan kebiasaan menjelajah pengguna, sehingga produk terlihat lebih menarik dari kenyataan.
Ciri Ulasan AI: Terlalu Sempurna dan Muncul Serentak
Ada beberapa tanda yang bisa dipakai traveler untuk mengenali ulasan palsu. Scott Dylan, pendiri perusahaan modal ventura AI di Mountain View, California, menyebut pola linguistik sebagai petunjuk pertama. AI menulis dengan gaya khas, banyak memakai tanda pisah, dan sering menyusun kalimat berpola "bukan x, melainkan y".
Dylan mencari pola itu serta tanda-tanda lain yang menunjukkan ulasan ditulis manusia sungguhan. "Orang asli biasanya menyebutkan nama staf atau detail spesifik yang mungkin agak berantakan. AI lebih suka memberikan pujian umum," ucapnya.
Tanda kedua, kemunculan ulasan yang terlalu berdekatan. Ulasan asli masuk bertahap selama berbulan-bulan, sementara ulasan AI muncul masif dan terkoordinasi untuk mendongkrak popularitas hotel atau restoran dengan cepat. Jika sebuah hotel mendapat 20 ulasan sangat positif pada hari Selasa lalu sepi total di sisa bulan, kemungkinan besar itu ulah jaringan bot.
Waspadai Pola Bintang 5 dan 1
Penilaian bintang juga bisa jadi petunjuk. Akun asli umumnya memberi bintang 3 sampai 4 karena itu penilaian yang rasional. Ulasan berbintang 5 atau 1 patut dicurigai sebagai penipuan atau sekadar balas dendam seseorang.
Bagi traveler yang merencanakan staycation, langkah paling aman adalah membaca ulasan secara menyeluruh, bukan hanya skor rata-rata. Perhatikan apakah ada nama staf, keluhan spesifik soal kamar, atau detail yang terasa personal. Ulasan yang menyebut hal-hal kecil dan tidak sempurna biasanya lebih bisa dipercaya ketimbang pujian serba mulus.
Jika ragu, cek ulasan di beberapa platform sekaligus dan bandingkan tanggal unggahnya. Pola ulasan yang menumpuk di satu waktu tertentu dengan gaya bahasa seragam adalah sinyal kuat untuk berhati-hati sebelum menekan tombol pesan.