Pemerintah Kota Bengkulu mendorong seluruh kelurahan mengembangkan budidaya maggot untuk mengurangi sampah organik sekaligus membuka peluang ekonomi warga. Percontohan dimulai di Kelurahan Tanah Patah melalui program Berendo Maggot yang digarap bersama mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Bengkulu tahun 2026. Wali Kota Dedy Wahyudi menyebut program ini akan diintegrasikan dengan kolam lele dan budidaya itik.
BENGKULU — Pemkot Bengkulu menargetkan budidaya maggot masuk ke seluruh kelurahan di wilayahnya. Program ini dinilai mampu menekan volume sampah organik yang selama ini berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sekaligus memberi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
Langkah awal diambil di Kelurahan Tanah Patah lewat program Berendo Maggot. Pengelolaannya melibatkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB) tahun 2026.
Maggot Jadi Pakan Lele hingga Itik
Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi menjelaskan budidaya maggot di Tanah Patah terintegrasi dengan kolam lele dan budidaya itik. Maggot dimanfaatkan sebagai alternatif pakan ternak maupun ikan.
"Diawali di Kelurahan Tanah Patah, dibantu anak-anak KKN UMB, kami lihat pengolahan maggot ini bisa terintegrasi dengan kolam lele dan budidaya itik. Ini menjadi percontohan yang nanti akan kita kembangkan di seluruh kelurahan," kata Dedy di Bengkulu, Kamis.
Menurut Dedy, sampah organik atau sampah basah yang selama ini tidak bernilai guna bisa diolah menjadi maggot. Sementara sampah plastik sudah memiliki pihak yang menampung untuk didaur ulang.
Dana Kelurahan Dipakai, Regulasi Masih Dikaji
Pemkot Bengkulu saat ini memanfaatkan dana kelurahan untuk pengembangan budidaya maggot. Dedy menyatakan pihaknya tetap memperhatikan ketentuan dan regulasi yang berlaku.
"Semoga nanti bisa kita anggarkan dana kelurahan secara khusus untuk pengelolaan maggot, tetapi kita masih melihat regulasinya," ujarnya.
Dedy berharap program ini berjalan konsisten dan berkelanjutan. Budidaya maggot dinilai berpotensi meningkatkan nilai ekonomi warga dan menjadi alternatif pakan bagi budidaya ikan maupun ternak.
DLH: Pengolahan Sampah Didekatkan ke Sumbernya
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bengkulu Anshar Amin menerangkan budidaya maggot menjadi salah satu solusi mengurangi volume sampah organik yang berakhir di TPA.
"Ke depan, sesuai arahan Wali Kota Bengkulu, kami berharap seluruh kelurahan melakukan budidaya magot sebagai bagian dari gerakan pengelolaan sampah organik," katanya.
Program budidaya akan dilakukan bertahap melalui uji coba dan pengembangan. Targetnya, pengolahan sampah organik bisa dilakukan lebih dekat dengan sumber sampah masyarakat.
Saat ini sisa makanan dan limbah dapur masih banyak langsung dibuang. Padahal jika dipilah dan dikelola dengan baik, sampah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pakan maggot yang memiliki nilai jual.