BENGKULU — Pemerintah Indonesia dan Rusia memperluas kerja sama ekonomi di tengah meningkatnya nilai perdagangan bilateral yang tumbuh lebih dari 12 persen pada tahun sebelumnya. Kesepakatan terbaru mencakup rencana investasi Pupuk Indonesia di Vladivostok serta tawaran pengadaan kapal pengolahan ikan berteknologi mutakhir untuk armada perikanan nasional.
Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, mengumumkan langsung hasil pembicaraan tersebut usai pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Vladimir Putin. Rosan menyebut kedua pemimpin berada di momentum yang pas untuk memperdalam kemitraan, terutama di tengah kebutuhan Indonesia memperkuat ketahanan bahan baku industri.
Studi Bersama Investasi Pupuk di Timur Rusia
Penjajakan kerja sama diawali dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Pupuk Indonesia dengan pihak Rusia. Rosan menjelaskan dokumen itu berisi komitmen melakukan studi bersama untuk menilai potensi pembangunan pabrik pupuk urea di kawasan Vladivostok.
“Pada intinya, kami bersama-sama dengan Dirut Pupuk Indonesia baru saja menandatangani joint study untuk melihat potensi dari Pupuk Indonesia berinvestasi di Vladivostok ini untuk pupuk urea,” kata Rosan dalam keterangan tertulis Biro Sekretariat Presiden, Jumat (4/9/2026).
Kabar itu mengikuti perbaikan kinerja perusahaan pelat merah tersebut. Rosan menilai efisiensi operasional Pupuk Indonesia kian membaik dalam beberapa tahun terakhir dan membuat perusahaan memiliki ruang fiskal untuk ekspansi ke Rusia. Langkah ini, kata dia, akan berdampak langsung pada ketahanan industri pupuk dalam negeri, terutama dari sisi pasokan bahan baku.
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menambahkan posisi Vladivostok yang menghadap kawasan Pasifik menjadi daya tarik utama bagi industri pupuk. Lokasi itu dinilai strategis untuk distribusi ke pasar Asia sekaligus memperluas jangkauan ekspor.
Tawaran Kapal Ikan Canggih Sepanjang 102 Meter
Putin, menurut Rosan, juga menyampaikan secara langsung proposal kerja sama di sektor maritim kepada Prabowo. Rusia menawarkan kapal pengolahan ikan dengan panjang lebih dari 102 meter yang dibekali teknologi untuk menjaga kualitas hasil tangkapan.
“Presiden Putin juga menawarkan untuk perkapalan yang panjangnya lebih dari 102 meter yang mutakhir, untuk pengolahan langsung ikan-ikan kita sehingga menjadi lebih baik kualitasnya,” ujar Rosan.
Pemerintah Indonesia tidak langsung menyepakati tawaran itu. Prabowo berencana mengirim tim teknis untuk mempelajari teknologi kapal dan menilai potensi pemanfaatannya bagi industri perikanan nasional. Langkah itu bertujuan memastikan pengoperasian kapal tersebut bisa berjalan selaras dengan kebutuhan armada penangkap ikan di dalam negeri.
Perjanjian Dagang Eurasia dan Peluang Perluasan Pasar
Selain dua kerja sama tersebut, pertemuan Prabowo-Putin turut menyoroti percepatan ratifikasi perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dan kawasan Eurasia. Rosan menilai penyelesaian perjanjian itu akan memperluas akses pasar bagi produk Indonesia serta meningkatkan arus investasi dari kawasan Rusia ke Tanah Air.
“Jadi momentumnya sangat baik, momentumnya sangat pas sehingga ini memperluas dari segi perdagangan, kerja sama, partnership, investasi terhadap kedua negara,” kata Rosan.
Data yang dihimpun pemerintah menunjukkan tren positif hubungan dagang kedua negara. Perdagangan Indonesia-Rusia tumbuh di atas 12 persen pada periode sebelumnya, menjadikan Rusia salah satu mitra nontradisional dengan pertumbuhan paling signifikan bagi ekspor Indonesia.
Ratifikasi perjanjian tersebut masih membutuhkan pembahasan lebih lanjut antara DPR dan pemerintah. Jika selesai, kerja sama ekonomi Indonesia dengan Rusia tidak hanya berhenti pada sektor pupuk dan perikanan, tetapi juga membuka pintu masuk bagi produk manufaktur dan komoditas unggulan lain di pasar Eurasia.