BENGKULU — Stunting masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Indonesia. Namun di wilayah lingkar tambang, ada kabar baik yang patut kita syukuri. Program pendampingan yang dijalankan NHM Peduli bersama tenaga kesehatan setempat berhasil menekan angka stunting secara signifikan—dan ini kabar yang relevan bagi kita semua yang sedang berjuang memastikan tumbuh kembang si kecil optimal.
Apa yang Terjadi pada 95 Anak di Wilayah Ini?
Puskesmas Bobaneigo mencatat hasil yang menggembirakan. Dari total 95 anak yang menjadi sasaran awal program, 74 di antaranya menunjukkan perkembangan positif dan resmi keluar dari kategori stunting. Sisanya, 21 anak, masih membutuhkan pendampingan lebih lanjut.
Angka ini bukan sekadar statistik. Di baliknya ada proses panjang yang melibatkan orang tua, kader Posyandu, dan tenaga kesehatan yang bekerja sama memastikan setiap anak mendapat hak tumbuh kembangnya.
Bukan Sekadar Bantuan, tapi Pendampingan Menyeluruh
dr. Gamaria Ibrahim, Kepala Puskesmas Bobaneigo, menjelaskan bahwa program ini berbeda dari sekadar pemberian bantuan. Tim turun langsung ke lapangan melakukan pemantauan pertumbuhan secara rutin, mulai dari penimbangan berkala hingga pemberian makanan tambahan bergizi dan susu formula.
“Kami sangat mengapresiasi program NHM Peduli dalam penanganan stunting di wilayah kami. Pendampingan yang dilakukan secara langsung memberikan dampak positif bagi anak-anak sasaran,” ujarnya.
Yang lebih penting, orang tua tidak dibiarkan sendiri. Edukasi tentang pentingnya asupan gizi dan pemantauan tumbuh kembang diberikan secara berkesinambungan. Kesadaran keluarga pun perlahan berubah, dan ini kunci utama keberhasilan jangka panjang.
Mengapa Peran Orang Tua Menjadi Kunci Keberhasilan?
Program ini menyadarkan satu hal: stunting bukan hanya soal makanan, tapi juga pola asuh. Ketika orang tua paham pentingnya memantau berat badan anak secara rutin dan memberikan asupan bergizi seimbang, perubahan positif pun mulai terlihat.
“Kami melihat adanya perkembangan yang baik pada sejumlah anak setelah mendapatkan pendampingan. Program ini juga membantu meningkatkan kesadaran orang tua mengenai pentingnya asupan gizi dan pemantauan tumbuh kembang anak secara rutin,” tambah dr. Gamaria.
Untuk ibu muda di rumah, ini pengingat bahwa memantau grafik pertumbuhan di buku KIA bukan sekadar formalitas. Kenaikan berat badan yang stabil setiap bulan adalah indikator awal bahwa anak tumbuh sehat.
Sinergi yang Membawa Hasil Nyata
Keberhasilan ini tidak lepas dari kolaborasi erat antara NHM Peduli, Puskesmas, pemerintah desa, dan kader Posyandu. Setiap pihak punya peran yang saling melengkapi—dari verifikasi lapangan hingga intervensi langsung di rumah-rumah warga.
dr. Gamaria berharap program serupa bisa terus berlanjut. Menurutnya, penanganan stunting tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Butuh komitmen bersama dan pendampingan yang berkelanjutan untuk memastikan anak-anak yang masih membutuhkan perhatian bisa segera pulih.
Pelajaran untuk Orang Tua di Rumah
Kabar baik dari Bobaneigo ini mengajarkan kita bahwa stunting bisa dicegah dan diatasi. Kuncinya ada pada deteksi dini dan intervensi yang konsisten. Jika anak menunjukkan berat badan yang stagnan atau tidak naik sesuai kurva pertumbuhan, segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan.
Jangan ragu untuk aktif bertanya kepada kader Posyandu atau dokter anak. Semakin cepat kita sadar dan bertindak, semakin besar peluang anak untuk tumbuh optimal. Masa depan anak dimulai dari meja makan dan kepedulian kita hari ini.