BENGKULU — Kenaikan harga minyak dunia masih tertahan oleh aksi investor yang menunggu kejelasan eskalasi konflik di Timur Tengah. Mengutip Reuters, harga minyak Brent untuk pengiriman Oktober naik 25 sen atau 0,3 persen menjadi US$91,87 per barel. Di sisi lain, minyak mentah WTI AS kontrak September turun tipis 2 sen menjadi US$85,81 per barel, sementara kontrak Oktober yang lebih aktif naik 14 sen ke posisi US$84,53 per barel.
Kedua acuan harga tersebut sebelumnya sama-sama mencatatkan penguatan untuk sesi keempat berturut-turut pada Rabu (19/8) dan ditutup pada level tertinggi sejak 24 Juli. Kontrak WTI September sendiri akan segera berakhir pada hari ini.
Faktor Penahan di Balik Laju Kenaikan Harga Minyak
Meski harga bertahan di zona tinggi, laju kenaikan disebut-sebut masih terbatas. Chief Strategist Nissan Securities Investment, Hiroyuki Kikukawa, menilai pasar masih didukung oleh serangan sporadis di Timur Tengah, namun belum memiliki momentum baru tanpa adanya eskalasi besar.
"Harga minyak tetap tinggi karena pasar didukung oleh serangan sporadis di Timur Tengah, tetapi belum memiliki momentum baru tanpa eskalasi besar," ujar Kikukawa kepada Reuters.
Menurut Kikukawa, harga minyak berpeluang melanjutkan tren kenaikan secara bertahap seiring ketidakpastian pembicaraan damai dan meningkatnya ketegangan yang melibatkan Uni Emirat Arab (UEA), Oman, dan Iran. Keputusan UEA untuk menangguhkan seluruh transaksi keuangan dan ekonomi dengan Iran hingga waktu yang belum ditentukan kembali menyoroti hubungan yang tegang antara salah satu produsen minyak utama Teluk tersebut dan Iran.
Selat Hormuz: Jalur Vital yang Kini Dihindari Kapal Kargo
Ketidakpastian terkait kondisi Selat Hormuz masih menjadi perhatian utama pelaku pasar. Presiden AS Donald Trump pada Selasa (18/8) menyatakan tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Iran dan menegaskan Selat Hormuz terbuka. Namun, pernyataan tersebut bertolak belakang dengan klaim Iran yang menyatakan jalur perairan strategis itu masih ditutup.
Data pelayaran pada Rabu (19/8) menunjukkan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz melambat. Sebagian besar pemilik kapal memilih menghindari jalur tersebut karena belum ada sinyal jelas mengenai pembukaan kembali jalur yang diblokade selama perang Iran. Padahal, Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan minyak global. Gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan ini berpotensi menghambat pasokan energi dan meningkatkan risiko kenaikan harga lebih lanjut.
Stok Minyak AS Naik, Membatasi Ruang Penguatan Harga
Dari Amerika Serikat, data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah dan bensin meningkat pada pekan lalu, sementara stok produk sulingan justru turun. Persediaan minyak mentah AS naik 4,4 juta barel pada pekan yang berakhir 14 Agustus. Angka tersebut berbanding terbalik dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan penurunan sekitar 600 ribu barel.
Kenaikan stok minyak mentah AS menjadi salah satu faktor yang membatasi penguatan harga minyak, di tengah sentimen pasar yang masih dipengaruhi perkembangan konflik di Timur Tengah dan ketidakpastian keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
Investasi mengandung risiko.