BENGKULU — BI Bengkulu mengubah cara sosialisasi transaksi digital dengan memanfaatkan turnamen gim Mobile Legends. Kegiatan yang berlangsung di Bencoolen Mall ini menjadi ajang edukasi sistem pembayaran QRIS yang dikemas lewat kompetisi ekonomi kreatif, menyasar kelompok usia produktif yang selama ini menjadi motor adopsi teknologi finansial.
Strategi Baru Edukasi QRIS: Lewat Gim, Bukan Sekadar Brosur
Alih-alih menggelar seminar konvensional, BI Bengkulu memilih turnamen e-sports sebagai pintu masuk memperkenalkan keamanan, kecepatan, dan efisiensi bertransaksi memakai QRIS. Antusiasme peserta terlihat dari jumlah pendaftar yang memenuhi kuota 28 tim.
Deputi Perwakilan Bank Indonesia Bengkulu menilai pendekatan berbasis komunitas kreatif seperti gim digital jauh lebih efektif menjangkau anak muda dibanding metode sosialisasi tradisional. Melalui kegiatan ini, BI tidak hanya berkampanye, tetapi juga membangun keterlibatan publik digital secara produktif.
Berapa Potensi Transaksi Digital dari Generasi Muda Bengkulu?
Keterlibatan ratusan pemuda dalam satu turnamen mencerminkan besarnya pasar transaksi nontunai yang belum tergarap di Bengkulu. BI memanfaatkan momen ini untuk menanamkan kebiasaan bertransaksi digital sejak dini kepada peserta.
Rangkaian PQN 2026 di Bengkulu ditargetkan mampu mendongkrak volume transaksi digital daerah. Langkah ini sekaligus mempercepat target integrasi ekonomi dan keuangan digital nasional yang dicanangkan Bank Indonesia.
Sinergi Teknologi dan Kreativitas untuk Target Nasional 2026
BI Bengkulu optimistis sinergi antara teknologi, kreativitas, dan kompetisi sehat dapat membuat generasi muda lebih adaptif terhadap infrastruktur digital yang tersedia. Ekosistem pembayaran nontunai dinilai krusial untuk mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
Dengan model pendekatan seperti ini, harapannya adopsi QRIS di Bengkulu tidak hanya meningkat dari sisi jumlah pengguna, tetapi juga frekuensi transaksi harian di berbagai sektor, mulai dari UMKM hingga layanan publik.