BENGKULU — Anak usaha PT Astra International Tbk ini tidak mau bergantung selamanya pada batu bara. Meski mengakui komoditas hitam itu masih vital bagi pasokan listrik nasional, United Tractors mulai serius merambah sektor mineral dan energi hijau. Akuisisi tambang emas dan nikel, pembangkit listrik tenaga air, hingga fasilitas riset hidrogen di Kalimantan Tengah menjadi bukti pergeseran arah bisnis tersebut.
Kinerja Keuangan Tertekan, Operasional Martabe Pulih
Pada paruh pertama 2026, UNTR membukukan pendapatan bersih Rp 58,3 triliun atau turun 15 persen dibanding periode sama tahun lalu yang mencapai Rp 68,5 triliun. Manajemen menyebut penurunan ini dipicu oleh rendahnya penjualan emas dari PT Agincourt Resources serta melemahnya segmen alat berat dan pertambangan batu bara termal maupun metalurgi.
Alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) Batu Bara Nasional 2026 yang lebih rendah ikut menekan kinerja. Laba bersih tanpa pos non-berulang pun anjlok 48 persen menjadi Rp 4,3 triliun. Kendati demikian, operasional Tambang Emas Martabe yang sempat dihentikan telah kembali berjalan pada kuartal kedua 2026.
Empat Jurus Keberlanjutan
Direktur Human Capital & Sustainability United Tractors, Ari Sutrisno, menjelaskan perseroan menerapkan empat pendekatan menjaga keberlanjutan. Pertama, energy mix dengan memanfaatkan biodiesel, sel surya, dan baterai, bukan sekadar solar. Kedua, efisiensi energi. Ketiga, perlindungan hutan melalui penanaman dan pemeliharaan kawasan hutan untuk menyerap karbon.
"Kalau coal tiba-tiba gak ada, padam listrik Indonesia. Tapi kami pun juga bergerak bagaimana membangun bisnis-bisnis lain yang ke arah yang lain. Seperti ke arah mineral, kami akuisisi emas dan nikel," ujar Ari di Jakarta, Rabu (12/8).
Perusahaan saat ini memelihara sekitar 130 ribu hektare hutan di Papua untuk penyerapan karbon, serta mengembangkan hutan kota dan edu forest. "Empat pendekatan ini yang kami pakai untuk menjaga sustainability kami," kata Ari.
Target Air dan Limbah
United Tractors juga menargetkan penurunan intensitas penggunaan air sebesar 30 persen pada 2030. Hingga 2025, realisasinya telah mencapai 23,09 persen. Untuk pengelolaan limbah, perseroan menargetkan 62 persen limbah padat dialihkan dari pembuangan akhir pada 2030, dan hingga 2025 realisasinya sudah mencapai 73,84 persen.
Di sektor mineral, UNTR telah mengakuisisi sejumlah tambang emas seperti Agincourt Resources, Sumbawa Juta Raya, dan Arafura Surya Alam. Untuk komoditas nikel, perseroan memegang kepemilikan 19,99 persen di Nickel Industries Limited. Portofolio energi juga mencakup pembangkit listrik tenaga air, sel surya, panas bumi, hingga waste-to-energy di Bandung.
Kolaborasi untuk SDM Masa Depan
Di luar transformasi bisnis, UNTR menjalankan program UNTUK Indonesia yang merupakan singkatan dari United Tractors untuk Kemajuan Indonesia. Program ini mencakup business forum dengan 1.134 peserta, learning festival yang diikuti sekitar 7.000 peserta, serta lomba pembuatan video singkat bertajuk live with manner yang diikuti 1.150 peserta. Kegiatan tersebut melibatkan karyawan, generasi muda, akademisi, pemerintah, hingga masyarakat.
Perseroan menilai kemajuan perusahaan membutuhkan sumber daya manusia yang kompeten, adaptif, dan berkarakter. Program ini menjadi ruang bersama untuk bertukar pengetahuan sekaligus mendorong pembelajaran menjadi aksi nyata.
Transformasi United Tractors mencerminkan arah industri pertambangan nasional yang mulai beranjak dari ketergantungan batu bara. Dengan target energi terbarukan yang realistis dan portofolio mineral yang terus diperkuat, perseroan bersiap menghadapi era transisi energi tanpa mengorbankan kebutuhan pasokan listrik domestik.