BENGKULU — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bengkulu memetakan 21 kecamatan berstatus bahaya tinggi terhadap kekeringan. Wilayah dengan risiko tertinggi itu tersebar di Kabupaten Lebong, Mukomuko, dan Bengkulu Utara.
Pemetaan ini mengacu pada Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI). Dari total 128 kecamatan di Provinsi Bengkulu, mayoritasnya atau 107 kecamatan masuk kategori sedang.
"Dari total 128 kecamatan di Provinsi Bengkulu, sebanyak 21 kecamatan masuk kategori bahaya tinggi terhadap ancaman kekeringan. Sisanya, 107 kecamatan berada pada kategori sedang," kata Khristian saat dikonfirmasi, Senin (3/8/2026).
13 Kecamatan di Mukomuko Paling Rawan
Kabupaten Mukomuko menjadi wilayah dengan kantong kekeringan terbanyak. Sebanyak 13 kecamatan di kabupaten tersebut masuk daftar bahaya tinggi, meliputi Sungai Rumbai, Air Dikit, Air Manjunto, V Koto, XIV Koto, Penarik, Selagan Raya, Teramang Jaya, Air Rami, Malin Deman, Ipuh, Pondok Suguh, dan Lubuk Pinang.
Selain Mukomuko, status bahaya tinggi juga disematkan pada Kecamatan Pinang Belapis di Kabupaten Lebong. Sementara di Kabupaten Bengkulu Utara, empat kecamatan masuk kategori serupa, yakni Marga Sakti Sebelat, Napal Putih, Putri Hijau, dan Pulau Enggano.
Kategori Bahaya Tinggi: Air Jauh di Bawah Kebutuhan Normal
Khristian menjelaskan, kategori bahaya tinggi menandakan wilayah memiliki peluang besar mengalami kekeringan dengan cakupan terdampak luas. Ketersediaan air di wilayah tersebut berada jauh di bawah kebutuhan normal masyarakat.
Kondisi ini tidak hanya berdampak pada pemenuhan kebutuhan rumah tangga, tetapi juga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan. Masyarakat diminta untuk mulai menghemat penggunaan air sejak dini.
"Kami mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak, tidak membakar lahan atau pekarangan selama musim kemarau, serta tetap waspada karena apabila kemarau panjang disusul hujan dengan intensitas tinggi, potensi banjir dan longsor juga bisa terjadi," jelas Khristian.
Waspada Banjir Susulan Saat Kemarau Berakhir
BPBD Provinsi Bengkulu mengingatkan agar kewaspadaan tidak hanya difokuskan pada kekeringan. Pergeseran musim yang ekstrem dari kemarau panjang menuju hujan deras berpotensi memicu bencana hidrometeorologi basah.
Oleh karena itu, langkah mitigasi yang dilakukan saat ini tidak hanya berorientasi pada ketersediaan air bersih, tetapi juga kesiapan menghadapi transisi musim. Masyarakat di wilayah pesisir maupun lereng diminta memperhatikan kondisi lingkungan sekitar.