BENGKULU — Pengembangan sistem otonom untuk kendaraan listrik kini tak hanya menjadi monopoli pabrikan besar seperti Tesla atau BMW. Dr Rudy Dikairono ST MT, dosen Departemen Teknik Elektro ITS bersama tim dari STP ICT dan Robotika, menghadirkan solusi yang lebih inklusif dengan pendekatan modular.
Berbeda dengan mobil mewah yang sudah mengintegrasikan sistem otonom penuh dari pabrik, inovasi ini justru menyasar mobil listrik kelas menengah ke bawah yang hanya dibekali fitur Advanced Driver Assistance System (ADAS).
Mematikan ADAS Bawaan, Memasang Sistem Baru
Rudy menjelaskan, timnya mengganti total sistem ADAS bawaan mobil dengan sistem otonom buatan sendiri. “Untuk mobil yang sudah memiliki ADAS seperti ini, kita lakukan pergantian sistemnya dengan kita matikan ADAS bawaan dari mobilnya,” ujarnya di Surabaya, Senin (27/7).
Pendekatan ini dipilih karena mobil listrik dinilai lebih mudah dalam integrasi sistem elektroniknya dibanding kendaraan konvensional. Hasilnya, kendaraan bisa dioperasikan secara manual oleh pengemudi atau beralih sepenuhnya ke mode otonom.
LiDAR, GPS, dan Peta Jadi Andalan Navigasi
Sistem otonom ini mengusung konsep modular dengan menambahkan sensor-sensor canggih. Teknologi Light Detection and Ranging (LiDAR) berfungsi sebagai sensor laser untuk mengukur jarak, dipadukan dengan GPS dan data peta.
“Sistem kami membuat mobil mampu mengenali lingkungan dan menentukan rute secara mandiri,” kata Rudy yang juga menjabat Manajer Senior STP ICT dan Robotika ITS. Kombinasi sensor tersebut memungkinkan kendaraan membaca kondisi jalan secara komprehensif dan menyesuaikan rute secara otomatis.
Uji Coba di Kampus: Deteksi Hambatan dan Respons Adaptif
Uji coba telah dilakukan di lingkungan kampus ITS dengan mematuhi regulasi yang berlaku di Indonesia. Hasilnya, kendaraan mampu mendeteksi hambatan di depan dan merespons secara adaptif.
“Kami terus meningkatkan aspek keamanan agar kendaraan semakin responsif terhadap kondisi jalan,” tutur Rudy. Ke depan, pengembangan akan difokuskan pada kemampuan manuver menyalip dan penyesuaian kecepatan otomatis.
Rencananya, sistem ini tak hanya untuk mobil. Tim pengembang membuka peluang penerapan di sektor lain seperti pertanian dan industri. “Kami terbuka untuk kolaborasi dengan industri agar inovasi ini bisa diimplementasikan lebih luas,” pungkasnya.
Inovasi ini sejalan dengan komitmen ITS mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengembangan teknologi sistem kendali otonom pada kendaraan.