Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi mengatakan penggunaan Kbek Palak bukan sekadar aksesoris, melainkan simbol identitas dan kehormatan budaya Bengkulu. Ia mengajak seluruh jajaran pemkot untuk memakainya dengan bangga dan menjadi garda terdepan dalam merawat warisan leluhur.
Bukan Sekadar Atribut, Melainkan Identitas Budaya
"Kbek Palak ini bukan sekadar aksesoris, melainkan identitas dan kehormatan budaya kita warga Bengkulu. Hari ini, saya mengajak seluruh jajaran Pemkot Bengkulu untuk memakainya dengan bangga. Kita harus menjadi garda terdepan dalam merawat warisan leluhur agar tidak punah tergerus zaman," kata Dedy di Bengkulu, Jumat.
Kbek Palak merupakan penutup kepala tradisional yang dahulu banyak digunakan oleh para bangsawan dan tokoh masyarakat Bengkulu. Namun, keberadaannya perlahan mulai menghilang seiring arus modernisasi.
Mendongkrak UMKM Kain Lokal dan Industri Kreatif
Pemkot Bengkulu tidak hanya fokus pada pelestarian budaya. Dedy menyebut kebijakan ini juga bertujuan mendongkrak sektor industri kreatif dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) perajin kain lokal di wilayah tersebut. Dengan meningkatnya permintaan Kbek Palak, para perajin lokal diharapkan mendapat dampak ekonomi langsung.
"Saya sengaja selalu memakai Kbek Palak dan Batik Besurek di berbagai kesempatan, termasuk pada hari Kamis. Ini cara untuk melestarikan budaya Bengkulu. Intinya, ini cara kita melestarikan dan menumbuhkan rasa cinta pada budaya ataupun adat istiadat tradisi khas Kota Bengkulu," kata dia.
Mulai dari Lingkungan Pemerintahan sebagai Contoh Nyata
Dedy menekankan pentingnya memulai pelestarian budaya dari lingkungan pemerintahan. Langkah ini diharapkan menjadi contoh nyata bagi masyarakat luas untuk ikut serta merawat warisan leluhur. Dengan kewajiban ini, Pemkot Bengkulu ingin memastikan Kbek Palak kembali dikenal dan digunakan secara luas, tidak hanya oleh pejabat, tetapi juga oleh generasi muda.