BENGKULU — Banjarbaru — Polres Banjarbaru kembali membuktikan keterlibatannya di sektor pertanian, bukan sekadar tugas keamanan. Sebanyak 12,6 ton jagung pipil kering dari lahan binaan resmi diserahkan ke Bulog Kanwil Kalimantan Selatan. Angka ini setara dengan 12.600 kilogram komoditas yang siap diserap untuk cadangan pangan pemerintah.
Kualitas hasil panen menjadi perhatian utama dalam proses serah terima ini. Dengan rata-rata kadar air 14 persen, jagung tersebut telah lolos standar yang ditetapkan Bulog untuk penyerapan hasil panen petani. Artinya, komoditas ini layak masuk gudang penyimpanan tanpa pengolahan tambahan.
Keberhasilan ini bukan datang tiba-tiba. Jajaran Polres Banjarbaru telah melakukan pendampingan intensif kepada petani dan kelompok tani binaan, mulai dari pengolahan lahan, masa tanam, perawatan, hingga proses panen. Hasilnya, produktivitas lahan meningkat dan kualitas jagung sesuai permintaan pasar.
Pendekatan ini menunjukkan peran kepolisian yang lebih luas di tengah masyarakat. Selain menjaga keamanan, Polri ikut menggerakkan roda ekonomi kerakyatan melalui program ketahanan pangan yang dicanangkan pemerintah pusat.
Penyerapan hasil panen oleh Bulog memiliki dampak langsung bagi petani binaan. Mereka tidak perlu khawatir mencari pembeli atau menghadapi fluktuasi harga yang merugikan. Dengan adanya kepastian pasar, pendapatan petani menjadi lebih stabil dan kesejahteraan mereka berpeluang meningkat.
Langkah ini sejalan dengan target pemerintah memperkuat ketahanan pangan di Kalimantan Selatan. Stok jagung yang terserap ke Bulog menjadi cadangan penting untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan di wilayah tersebut.
Polres Banjarbaru menegaskan akan melanjutkan program pendampingan ini secara konsisten. Bukan hanya berhenti pada panen raya kali ini, tetapi berkelanjutan untuk setiap musim tanam. Targetnya jelas: mendorong produksi pertanian yang semakin meningkat dari waktu ke waktu.
Keberhasilan pengiriman 12,6 ton jagung ini menjadi indikator bahwa kolaborasi antara aparat keamanan dan petani mampu memberikan kontribusi nyata bagi program swasembada pangan nasional. Model pembinaan seperti ini berpotensi direplikasi di daerah lain untuk mempercepat pencapaian target ketahanan pangan Indonesia.