SELUMA — Harga TBS kelapa sawit di Kabupaten Seluma ambrol drastis dalam dua hari terakhir. Di PT SSL, harga yang sebelumnya bertengger di Rp2.650 per kilogram kini jatuh ke Rp1.950 per kilogram. Penurunan Rp700 itu terjadi hanya dalam waktu sehari, membuat para pengusaha RAM kelimpungan.
Sementara itu, harga di PT BSL 2 tercatat masih di angka Rp2.650 per kilogram. Meski begitu, para pengusaha tetap dihantui kekhawatiran karena fluktuasi harga sewaktu-waktu bisa kembali terjadi tanpa peringatan.
Salah satu pemilik RAM di Kecamatan Sukaraja, Supaat Winarno, mengaku kondisi ini sangat merugikan. Sawit yang sebelumnya dibeli dari petani dengan harga tinggi kini harus dijual dengan harga jauh di bawah modal.
"Sejak kemarin harga TBS terus turun hingga Rp500 per kilogram. Kondisi ini sangat merugikan kami sebagai pemilik RAM," ucap Winarno.
Ia melanjutkan, saat ini terdapat sekitar 200 ton TBS yang sudah terlanjur dikirim ke pabrik. Jika dihitung secara keseluruhan, kerugian yang dialami pengusaha RAM diperkirakan mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah.
Anjloknya harga membuat para pemilik RAM tidak berani lagi menetapkan harga pembelian tetap kepada petani. Mereka memilih menunggu kepastian harga dari perusahaan Crude Palm Oil (CPO) sebelum melakukan transaksi.
"Kami sekarang serba salah. Kalau beli mahal, takut harga turun lagi. Tapi kalau beli murah, petani juga keberatan. Jadi kami terpaksa menunggu informasi harga dari pabrik terlebih dahulu," sampainya.
Di sisi lain, para petani sawit mulai mengeluhkan penurunan harga tersebut. Hasil panen yang sebelumnya diharapkan mampu meningkatkan pendapatan keluarga kini justru menurun drastis. Bahkan, sebagian petani memilih menunda panen karena khawatir harga akan semakin jatuh.
Winarno mengatakan, kondisi serupa bukan hanya terjadi di Kabupaten Seluma, tetapi juga dialami hampir di seluruh daerah sentra sawit lainnya. Fluktuasi harga yang terlalu cepat membuat pengusaha RAM kesulitan menjaga kestabilan usaha mereka.
Ia berharap ada solusi dari pemerintah untuk memastikan stabilitas harga agar tidak terjadi gejolak yang terlalu tajam. Selain merugikan pengusaha RAM, kondisi ini dinilai berdampak langsung terhadap ekonomi masyarakat yang bergantung pada sektor perkebunan sawit.
"Harapan kami tentu ada kestabilan harga. Jangan sampai turun drastis seperti sekarang, karena yang paling terdampak itu petani dan pengusaha kecil," tutup Winarno.