BENGKULU — Data Refinitiv mencatat rupiah sudah bergerak naik sejak pembukaan, dibuka 0,11% ke posisi Rp18.010 per dolar AS. Tren positif berlanjut sepanjang sesi hingga mata uang Garuda berakhir di Rp17.980 per dolar AS.
Posisi itu menandai rupiah kembali berada di bawah Rp18.000 setelah sebelumnya bertahan di atas ambang tersebut. Penguatan terjadi bersamaan dengan turunnya US Dollar Index (DXY) 0,22% ke level 101,758 pada pukul 15.00 WIB.
Indeks Dolar Melemah Beri Ruang bagi Rupiah
DXY mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia. Pelemahan indeks itu membuka ruang bagi sejumlah mata uang lain, termasuk rupiah, untuk bergerak menguat.
Meski begitu, arah rupiah ke depan tidak berdiri sendiri. Perkembangan pasar keuangan global dan kebijakan moneter domestik tetap jadi penentu utama.
RDG BI 20-21 Oktober Jadi Penentu Arah Jangka Pendek
Pelaku pasar mengarahkan perhatian ke Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung 20-21 Oktober 2026. Bank sentral dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga acuan pada Rabu (21/10/2026).
Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai peluang kenaikan suku bunga acuan semakin terbuka. Rupiah sempat menembus Rp18.000 per dolar AS, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) meningkat, dan sentimen investor memburuk menyusul pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI).
"Menurut kami, peluang Bank Indonesia menaikkan BI-Rate pada RDG 20-21 Oktober 2026 semakin besar, dengan kenaikan sebesar 25 basis poin menjadi 6,00% sebagai skenario utama," ujar Josua.
BI-Rate 6,00% Dinilai Jaga Daya Tarik Aset Rupiah
Kenaikan 25 basis poin disebut dapat menjaga daya tarik aset berdenominasi rupiah. Langkah itu juga dinilai membantu mengendalikan ekspektasi inflasi dan memperkuat kepercayaan pasar terhadap kebijakan moneter Indonesia.
Josua menegaskan kenaikan suku bunga tidak otomatis membuat rupiah langsung menguat. Tekanan terhadap mata uang domestik bukan hanya soal perbedaan suku bunga, tetapi juga persepsi risiko investor terhadap pasar keuangan Indonesia.
Persoalan transparansi kepemilikan saham, dugaan praktik perdagangan terkoordinasi, dan efektivitas penegakan aturan disebutnya butuh penanganan tersendiri. Tiga hal itu tidak bisa diselesaikan hanya lewat kebijakan moneter.
Penguatan ke Rp17.980 per dolar AS menjadi perkembangan positif di tengah tekanan pasar. Keberlanjutannya masih bergantung pada keputusan BI, kondisi eksternal, dan upaya memperkuat kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.