BENGKULU — John Davidson, aktivis Tourette syndrome yang menginspirasi film "I Swear", akan menyaksikan upacara BAFTA Scotland Awards dari ruang terpisah di dalam venue, bersama keluarga dan teman-temannya. Keputusan ini diambil BAFTA setelah konsultasi dengan organisasi seperti Tourettes Action dan Tourette Scotland, menyusul insiden pengucapan slur rasial di ajang Film Awards Februari lalu. Film "I Swear" sendiri mengantongi tujuh nominasi BAFTA Scotland, terbanyak dalam sejarah ajang tersebut.
BAFTA memilih jalur konsultasi langsung dengan Davidson sebelum menetapkan pengaturan kehadirannya. Dalam surat kepada para anggota yang dikirim Kamis, ketua BAFTA Sara Putt dan CEO Jane Millichip menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan penilaian risiko menyeluruh demi keamanan semua tamu.
Pengaturan ini menjadi kelanjutan panjang dari insiden yang terjadi di atas panggung BAFTA Film Awards, ketika Davidson secara involunter meneriakkan slur rasial saat Michael B. Jordan dan Delroy Lindo tengah membacakan penghargaan pertama malam itu.
Latar Belakang Insiden di Film Awards
Insiden tersebut mencoreng malam puncak BAFTA Film Awards dan menjadi salah satu kontroversi terbesar yang dihadapi British Academy dalam beberapa tahun terakhir. Davidson, yang hidupnya menginspirasi film "I Swear", mengalami coprolalia — jenis tic vokal yang membuat penderitanya mengeluarkan kata atau frasa yang tidak pantas secara sosial tanpa kendali.
BAFTA menegaskan bahwa vokalisasi semacam itu bersifat neurologis, terjadi di luar kendali individu, dan tidak mencerminkan pandangan, keyakinan, karakter, atau niat seseorang.
Hasil Review Independen BAFTA
Sebuah review independen yang diperintahkan BAFTA setelah insiden menyimpulkan adanya "sejumlah kelemahan struktural dalam perencanaan, prosedur eskalasi, dan pengaturan koordinasi krisis" di tubuh British Academy. Meski demikian, review tersebut tidak menemukan bukti adanya "niat jahat" maupun "rasisme institusional".
Review yang dipesan pada Maret itu mengidentifikasi area-area spesifik yang perlu diperbaiki. Sejak saat itu, tim BAFTA disebut telah bekerja ekstensif dan berkonsultasi luas untuk mempelajari apa yang terjadi pada Februari lalu, termasuk dampak rasial yang dialami komunitas mereka.
Langkah Perbaikan yang Diambil
BAFTA memperkuat dan memusatkan proses pengamanan, penilaian risiko, dan kepatuhan, dengan pendekatan yang lebih terhubung dan lintas organisasi dalam perencanaan acara langsung. Jalur komunikasi dan eskalasi juga disederhanakan agar kekhawatiran bisa sampai ke orang yang tepat dengan cepat.
Briefing bagi semua pihak yang bekerja dengan BAFTA, termasuk pembawa acara, presenter, dan pembaca nominasi, turut diperkuat. BAFTA juga mencari saran independen soal praktik inklusi dan aksesibilitas dari sejumlah ahli, dengan pendekatan yang disesuaikan pada kebutuhan masing-masing individu.
"Kami menyadari bahwa membangun kembali kepercayaan membutuhkan lebih dari sekadar mengubah proses," tulis Putt dan Millichip dalam surat tersebut.
Pengaturan Khusus untuk Davidson
Untuk BAFTA Scotland Awards mendatang, BAFTA bekerja sama dengan ahli pengamanan dan inklusi untuk mempertimbangkan pengaturan yang memungkinkan Davidson, yang juga menjabat sebagai Executive Producer "I Swear", berpartisipasi dengan cara paling aman bagi semua pihak.
Davidson akan menonton upacara melalui tautan video dari ruang santai terpisah di dalam venue, ditemani keluarga dan teman-temannya. Pengaturan ini merupakan bentuk yang dia sendiri usulkan kepada BAFTA.
"Setelah percakapan tersebut dan penilaian risiko kami yang lebih luas, kami melakukan penyesuaian untuk memungkinkan John hadir dengan cara yang dia sarankan kepada kami," demikian pernyataan BAFTA.
Jadwal Musim Penghargaan BAFTA
Musim penghargaan BAFTA tahun ini sedang berjalan, dengan Cymru Awards yang digelar pada Minggu, disusul Scotland Awards pada November mendatang. "I Swear" memimpin nominasi BAFTA Scotland dengan tujuh nominasi, jumlah terbanyak dalam sejarah ajang tersebut.
Pengaturan kehadiran Davidson di Glasgow menjadi ujian pertama bagi prosedur baru BAFTA sejak insiden Februari, sekaligus penanda bagaimana industri penghargaan Inggris menangani persoalan aksesibilitas dan inklusi pasca-kontroversi.