BENGKULU SELATAN — Dinas Pertanian Kabupaten Bengkulu Selatan membekali tim teknisnya dengan keterampilan pendataan spasial, penyusunan basis data poligon kebun, dan validasi informasi perkebunan. Pelatihan berlangsung bersama DGL Learning Institute dengan fokus pada teknik pemetaan kebun sawit rakyat.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bengkulu Selatan Binagransyah menilai akurasi data dan luasan kebun menjadi persoalan penting dalam tata kelola sawit rakyat di daerah. Data yang valid diperlukan untuk memastikan kebun masyarakat berada di luar kawasan hutan maupun hak guna usaha (HGU).
"Pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan berkomitmen penuh memajukan komoditas sawit rakyat sebagai penopang ekonomi daerah. Salah satu tantangan utama yang kita hadapi adalah keakuratan data spasial dan luasan riil kebun," ujar Binagransyah.
Menurut Binagransyah, data spasial yang akurat juga menjadi syarat untuk mengakses program peremajaan sawit rakyat (PSR) dan sertifikasi keberlanjutan. Tanpa data yang rapi, petani sulit membuktikan legalitas lahan mereka.
Materi pelatihan mencakup pengambilan titik koordinat dan penarikan batas poligon kebun secara presisi. Keterampilan ini diperlukan untuk mencegah tumpang tindih lahan sekaligus mendukung percepatan penerbitan STDB.
"Melalui pelatihan pemetaan bersama DGL Learning Institute ini, kami membekali tim pendata di lapangan agar mampu mengambil titik koordinat dan menarik batas poligon kebun secara presisi, sehingga tidak terjadi tumpang tindih lahan dan proses penerbitan STDB dapat dipercepat," kata Binagransyah.
Direktur Utama DGL Learning Institute M. Gema Aliza Putra menyatakan pelatihan menggunakan metode pembelajaran terstruktur, aplikatif, dan berstandar nasional. Peserta mempelajari pengoperasian GPS, aplikasi pemetaan melalui ponsel pintar, serta pengolahan data dengan perangkat lunak Sistem Informasi Geografis (SIG).
"Data spasial adalah gerbang utama menuju rantai pasok kelapa sawit yang dapat ditelusuri (traceable). Melalui kurikulum geospasial yang kami rancang, peserta tidak hanya diajarkan mengoperasikan GPS dan perangkat survei lapangan (mobile mapping), tetapi juga mengolah data poligon kebun ke dalam perangkat lunak SIG serta memvalidasi keabsahan data spasial sesuai kaidah teknis kementerian terkait," ujar Gema.
Materi lainnya meliputi dasar geospasial dan kartografi, sistem proyeksi, regulasi pemetaan perkebunan, digitasi poligon, serta pengelolaan basis data atribut pekebun. Peserta juga mempelajari teknik overlay tutupan lahan dan kawasan hutan.
Pelatihan ditutup dengan materi validasi dan pelaporan STDB. Peserta mempelajari penyusunan peta spasial yang memenuhi standar verifikasi penerbitan STDB dan persyaratan audit Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).
Bagi Pemkab Bengkulu Selatan, hasil pelatihan ini menjadi modal awal menata basis data kebun sawit rakyat. Data yang rapi memudahkan pemerintah daerah memetakan potensi komoditas sekaligus memenuhi syarat administrasi program peremajaan dan sertifikasi keberlanjutan.