REJANG LEBONG — Pemetaan berlangsung dengan melibatkan warga setempat untuk mengidentifikasi kebutuhan sekaligus aset lokal yang berpeluang dikembangkan menjadi usaha bernilai tambah. Mahasiswa tidak hanya mencatat apa yang dibutuhkan warga, tetapi juga mendata potensi yang sudah ada dan bisa diperkuat.
Kegiatan itu berkolaborasi dengan URIPICA, Global Coffee, dan Satuhal Heritage. Kolaborasi diarahkan untuk menggali potensi perkebunan, memperluas peluang kewirausahaan, serta meningkatkan nilai produk lokal.
Pendampingan dilakukan dosen pengampu Dr. Evan Setiawan, M.M., dan Yosy Arisandy, Ph.D. Keduanya menghubungkan pengetahuan akademik dengan praktik pemberdayaan, terutama dalam menganalisis potensi ekonomi lokal dan merancang strategi pengembangan usaha.
Yosy Arisandy mengatakan asesmen menjadi langkah penting agar program pengabdian benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Potensi perkebunan Desa Sumber Urip perlu dipetakan dan dikelola agar mampu memperkuat UMKM serta meningkatkan kesejahteraan warga.
"Pengabdian kepada masyarakat tidak cukup hanya dengan membawa program dari kampus, tetapi harus diawali dengan memahami kebutuhan masyarakat sekaligus mengenali aset dan potensi yang mereka miliki," ujarnya.
Hasil asesmen akan menentukan bentuk pendampingan yang relevan bagi masyarakat Desa Sumber Urip. Program ini diharapkan membuka peluang usaha, meningkatkan daya saing produk lokal, serta memperluas kesempatan ekonomi melalui kolaborasi perguruan tinggi, komunitas, dan pelaku usaha.
Keterlibatan mahasiswa juga diarahkan untuk meningkatkan kepekaan sosial, kemampuan analisis, dan keterampilan menyusun program pemberdayaan yang aplikatif. Melalui kegiatan lapangan, mahasiswa mendapat kesempatan memahami langsung kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.
Kolaborasi dengan URIPICA, Global Coffee, dan Satuhal Heritage menjadi bagian dari upaya menghubungkan hasil pemetaan dengan praktik usaha di lapangan. Ketiga pihak terlibat dalam penggalian potensi perkebunan yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi warga desa.
Program PKM ini menempatkan pemetaan sebagai fondasi sebelum pendampingan dijalankan. Arah pengembangan UMKM akan disusun berdasarkan temuan di lapangan, bukan asumsi dari kampus.