BENGKULU UTARA — Penurunan harga TBS di sejumlah PKS Bengkulu Utara membuat petani bertanya-tanya karena terjadi bersamaan dengan sulitnya mendapatkan produksi buah dalam jumlah normal. Harga di PT KKK kini berada di kisaran Rp 2.850 per kilogram, sedangkan di PT Alno sekitar Rp 2.990 per kilogram, setelah kembali terkoreksi sekitar Rp 30 per kilogram.
Sebelumnya, harga TBS di PKS PT BBS sempat menyentuh sekitar Rp 3.200 per kilogram. Level itu kini berubah seiring koreksi yang berlangsung hampir setiap hari dengan nominal bervariasi, mulai dari sekitar Rp 30 per kilogram.
Salah seorang petani sawit di Desa Kinal Jaya, Kecamatan Napal Putih, Slamet Santoso, mengatakan penurunan harga selama sepekan terakhir membuat petani bertanya-tanya. Kondisi harga saat ini cukup berisiko karena penurunan terjadi bersamaan dengan sulitnya mendapatkan produksi buah dalam jumlah normal.
"Ini yang membuat kami petani bertanya-tanya. Harga TBS turun terus dalam satu minggu ini, sementara kondisi buah di kebun juga sedang trek. Jadi produksi sedang sulit, harga malah ikut turun," ujar Slamet.
Menurut Slamet, kondisi tersebut dapat memberikan tekanan cukup besar terhadap petani. Ketika produksi menurun sementara harga jual TBS juga terus terkoreksi, pendapatan petani otomatis ikut tergerus.
Petani tetap harus menanggung berbagai kebutuhan operasional kebun, mulai dari biaya panen, angkut, pemeliharaan tanaman hingga kebutuhan rumah tangga yang sebagian besar masih bergantung pada hasil perkebunan.
Kombinasi harga yang terus turun dan produksi yang sulit membuat petani sawit di Bengkulu Utara menghadapi tekanan dari dua sisi sekaligus. Sejumlah petani berharap harga TBS kembali stabil agar pendapatan mereka tidak terus tergerus.