BENGKULU — Setelah sempat meredup, laptop dengan RAM 8GB kembali muncul di pameran Computex 2026 dan beberapa peluncuran produk sebelumnya. Tom's Hardware mencatat tren ini didorong oleh kenaikan harga komponen, terutama modul memori dan penyimpanan. Produsen seperti Dell, Acer, dan Microsoft memilih menekan spesifikasi RAM demi menjaga harga jual tetap kompetitif di tengah tekanan biaya produksi.
Beberapa model anyar yang mengusung konfigurasi 8GB antara lain:
Fenomena ini sebenarnya dimulai dari Apple. MacBook Neo yang diluncurkan dengan RAM 8GB dan harga terjangkau terbukti sukses di pasaran. Rumor menyebut Apple menggandakan produksi MacBook Neo tahun ini dari 5 juta menjadi 10 juta unit. Keberhasilan itu kemudian diikuti oleh produsen Windows yang ingin meniru formula harga murah dengan spesifikasi serupa.
Selain Intel, Qualcomm juga ikut serta. Chip Snapdragon C berbasis ARM dikabarkan akan menjadi otak laptop murah seperti Acer Aspire Go 15 yang kemungkinan besar hanya dibekali RAM 8GB.
Untuk tugas dasar seperti mengetik dokumen, menonton video, dan browsing web, RAM 8GB masih sanggup. Windows 11 sendiri memang lebih boros dibanding macOS, tetapi Microsoft tengah gencar melakukan optimasi melalui kampanye "fix Windows 11" tahun ini.
Masalahnya terletak pada masa pakai. Sebagian besar laptop modern menyolder RAM ke motherboard sehingga tidak bisa diupgrade. Jika Anda berencana memakai laptop selama lima tahun ke depan, RAM 8GB kemungkinan besar akan menjadi hambatan, terutama saat fitur AI seperti Copilot mulai terintegrasi lebih dalam ke sistem operasi.
Laptop RAM 8GB cocok untuk pelajar, pekerja lepas, atau pengguna yang hanya butuh perangkat kedua untuk tugas ringan dan anggaran terbatas. Namun, jika Anda berencana menggunakannya sebagai perangkat utama dalam 3-5 tahun ke depan, pertimbangkan untuk merogoh kocek lebih dalam demi varian 16GB. Di Indonesia, selisih harga antara kedua varian biasanya berkisar Rp1-2 juta — jumlah yang sebanding dengan ketenangan pikiran soal performa jangka panjang.