BENGKULU — Kepala Regional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bengkulu, Iqbal Rahmadan, memastikan pihaknya akan segera menindaklanjuti seluruh temuan dari Komisi IV DPRD Provinsi Bengkulu. Penegasan itu disampaikan usai mendampingi anggota dewan dalam sidak operasional program Makan Bergizi Gratis di beberapa lokasi dapur gizi, Senin lalu.
Iqbal menyebut bahwa fungsi pengawasan dari legislatif justru dibutuhkan untuk menjaga mutu program strategis nasional ini. Seluruh poin evaluasi, mulai dari pembenahan fasilitas dapur, standardisasi kebersihan, hingga ketepatan distribusi, akan menjadi prioritas perbaikan internal.
“Kami sangat berterima kasih atas masukan dan temuan dari Komisi IV DPRD Provinsi Bengkulu. Pihak manajemen SPPG Bengkulu siap bergerak cepat melakukan langkah perbaikan teknis agar kualitas pangan dan pelayanan pemenuhan gizi bagi masyarakat tetap terjaga sesuai standar mutu yang ditetapkan,” ujar Iqbal.
Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Bengkulu, Usin Abdisyah Sembiring, memberikan teguran langsung di lokasi sidak. Menurutnya, program Makan Bergizi Gratis menyangkut kesehatan masyarakat secara langsung, sehingga kelalaian sekecil apa pun dalam pengelolaan dapur maupun rantai pasok tidak boleh dibiarkan.
Usin meminta pengelolaan SPPG dievaluasi secara total. Ia menekankan agar kendala teknis yang ditemukan di lapangan tidak terulang dan mengganggu kelancaran program ke depannya.
Manajemen regional SPPG Bengkulu menyusun sejumlah langkah korektif. Prioritas pertama adalah pembenahan fasilitas dapur agar memenuhi standar higienitas yang ditetapkan pemerintah pusat.
Selain itu, ketepatan distribusi makanan bergizi ke penerima manfaat juga masuk dalam daftar perbaikan. Iqbal menambahkan bahwa tim pengawas internal akan diperketat untuk memastikan setiap titik layanan berjalan sesuai prosedur.
Saat ini, Komisi IV DPRD Provinsi Bengkulu terus memantau realisasi perbaikan yang dijanjikan oleh manajemen SPPG dalam beberapa pekan ke depan. Pengawasan ketat akan dilakukan untuk memastikan janji perbaikan tidak hanya menjadi wacana.