KEPAHIANG — Budidaya puspa langka di Kabupaten Kepahiang berjalan di atas lahan pribadi, bukan kawasan konservasi resmi. Holidin, Ketua LP2L2 Kepahiang, menyerahkan 3 hektare tanah keluarganya untuk dijadikan lahan konservasi swadaya bagi tanaman endemik Bengkulu tersebut.
Langkah itu berangkat dari pengalaman Holidin saat ikut masuk ke kawasan hutan di Kabupaten Seluma dan melihat langsung habitat liar Rafflesia. Dari situ ia mempelajari ilmu penangkaran tanaman endemik, meski sempat diliputi kekhawatiran terhadap berbagai mitos zaman dulu.
Keputusan mengembangkan metode penyelamatan itu baru diambil setelah ia pindah ke Kabupaten Kepahiang.
Lahan Pribadi 3 Hektare untuk Konservasi Rafflesia
Holidin menyebut lahan konservasi swadaya keluarga itu sebagai bentuk tanggung jawab menjaga ikon Bengkulu. Ia mengaku rela mengorbankan lahan pribadinya demi kelestarian puspa langka.
"Berbekal pengalaman dan pembelajaran dari habitat aslinya di Seluma, saya mencoba menerapkannya di Kepahiang. Bahkan, saya korbankan lahan pribadi seluas 3 hektare untuk dijadikan lahan konservasi swadaya keluarga demi melestarikan kebanggaan Bengkulu ini," ungkap Holidin.
Teknik Penangkaran: Sulur Inang ke Polybag, Tanpa Pupuk Kimia
Metode yang dipakai Holidin terbilang alami. Ia mengambil sulur atau inang berupa batang merambat yang sudah memiliki bakal calon bunga, lalu memasukkannya ke polybag berisi media tanah asli habitatnya.
Keterbatasan biaya membuat ia tidak menggunakan pupuk kimia dalam proses penangkaran. Cara ini dipertahankan karena dianggap paling mendekati kondisi alami tanaman.
Menurut pengalaman Holidin, sulur tersebut butuh waktu sekitar 4 bulan hingga mulai tumbuh dan berakar. Setelah itu barulah sulur dipindahkan ke lahan konservasi.
Tunas Baru Muncul Setelah 3 Tahun Ditanam
Proses penangkaran Rafflesia tidak instan. Setelah ditanam di lahan konservasi swadaya, tunas-tunas kecil biasanya baru bermunculan setelah 3 tahun.
Meski demikian, lahan tersebut kini menunjukkan hasil. Setidaknya ada 5 hingga 6 jenis puspa langka yang tumbuh subur di sana.
"Setidaknya ada 5 hingga 6 jenis puspa langka yang biasa tumbuh subur di lahan konservasi ini meliputi, meliputi Amorphophallus titanum (bunga bangkai raksasa), Amorphophallus gigas, Amorphophallus paeonifolius, Amorphophallus muelleri, Amorphophallus variabilis, dan Amorphophallus manta," jelas Holidin.
Amorphophallus Titanum hingga Manta Tumbuh Subur
Dari enam jenis yang disebut Holidin, Amorphophallus titanum atau bunga bangkai raksasa menjadi yang paling dikenal. Lima jenis lain adalah Amorphophallus gigas, Amorphophallus paeonifolius, Amorphophallus muelleri, Amorphophallus variabilis, dan Amorphophallus manta.
Keberadaan Rafflesia dan berbagai spesies Amorphophallus di lahan swadaya itu memperkuat posisi Kabupaten Kepahiang sebagai salah satu titik pelestarian puspa langka di Bengkulu. Upaya Holidin melalui LP2L2 Kepahiang menjadi contoh konservasi yang dijalankan tanpa dukungan lahan negara.