Pasar mobil diesel bekas di Indonesia mengalami kelesuan signifikan menyusul lonjakan harga BBM nonsubsidi yang kini menembus angka Rp 23.000 per liter. Penurunan minat konsumen ini berdampak langsung pada koreksi harga unit di berbagai diler karena nilai ekonomis mesin peminum solar mulai menghilang.
Tren kepemilikan mobil bermesin diesel di pasar sekunder kini menghadapi tantangan berat. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar nonsubsidi yang terjadi belakangan ini mulai mengubah peta permintaan di tingkat diler mobil bekas. Konsumen yang sebelumnya mengincar mesin diesel karena faktor efisiensi, kini mulai beralih haluan seiring membengkaknya biaya operasional harian.
Jeffrey Andika, Pendiri sekaligus CEO Otospector dan diler mobil bekas Otos.id, mengonfirmasi bahwa dampak kenaikan harga solar sudah sangat terasa di jaringan showroom rekanan mereka. Menurutnya, penurunan permintaan ini memicu efek domino yang memaksa pedagang mengoreksi harga jual unit diesel agar tetap kompetitif atau setidaknya bisa segera terjual.
"Kalau soal mobil diesel, info dari showroom rekanan yang pasti permintaan menurun mengakibatkan harga mobilnya anjlok," ungkap Jeffrey pada Jumat (8/5/2026). Fenomena ini menandai pergeseran drastis pada segmen yang biasanya dikenal memiliki harga jual kembali (resale value) yang cukup stabil di Indonesia.
Hilangnya Keunggulan Efisiensi Biaya Operasional Diesel
Selama puluhan tahun, daya tarik utama mesin diesel bagi pengguna di Indonesia adalah kemampuannya menekan biaya bahan bakar untuk jarak tempuh yang jauh. Namun, dengan selisih harga solar nonsubsidi yang semakin menjauh dari harga bensin standar, kalkulasi penghematan tersebut tidak lagi relevan bagi banyak calon pembeli.
Jeffrey menekankan bahwa motivasi utama konsumen membeli mobil diesel adalah sifat iritnya. Ketika harga bahan bakar melonjak hingga hampir dua kali lipat dalam waktu singkat, nilai tambah dari mesin diesel dianggap hilang. "Selama ini konsumen kan beli mobil diesel supaya irit. Kalau harga solar jadi tinggi begitu jadi nggak ada gunanya beli mobil diesel," tambahnya.
Meskipun besaran pasti penurunan harga dalam persentase belum dirilis secara resmi, laporan dari berbagai pelaku usaha di lapangan menunjukkan adanya keluhan massal mengenai lesunya perputaran stok unit diesel. Diler kini cenderung lebih berhati-hati dalam menerima unit trade-in bermesin diesel untuk menghindari penumpukan stok yang harganya terus tergerus.
Rincian Kenaikan Harga BBM Diesel di Berbagai SPBU
Lonjakan harga solar nonsubsidi memang tergolong ekstrem jika dibandingkan dengan periode sebelumnya. Berdasarkan data terbaru, beberapa merek bahan bakar diesel telah menyentuh level harga tertinggi baru yang membebani biaya operasional kendaraan:
- Pertamina Dexlite: Rp 23.600 per liter (naik Rp 9.400 dibandingkan bulan lalu).
- Pertamina Dex: Rp 23.900 per liter (naik signifikan dari posisi Maret Rp 14.500 per liter).
- BP Ultimate Diesel: Rp 29.890 per liter (setelah sempat menyentuh Rp 30.890 per liter).
- VIVO Diesel Primus: Rp 30.890 per liter.
Kenaikan yang mencapai rentang Rp 9.000 hingga Rp 10.000 per liter ini secara otomatis mengubah profil pengeluaran bulanan pemilik kendaraan. Sebagai gambaran, untuk mengisi penuh tangki SUV diesel berkapasitas 80 liter, pemilik kini harus merogoh kocek hampir Rp 1,9 juta, angka yang sebelumnya mungkin cukup untuk pengisian dua kali lipat lebih banyak.
FAQ: Dampak Kenaikan Solar Terhadap Mobil Diesel Bekas
Mengapa harga mobil diesel bekas bisa turun drastis?
Penurunan harga terjadi karena hukum permintaan dan penawaran. Ketika biaya BBM diesel naik tajam, minat pembeli berkurang drastis. Diler terpaksa menurunkan harga jual agar unit tidak mengendap terlalu lama di showroom yang berisiko merugikan arus kas.
Apakah mobil diesel masih layak dibeli di tahun 2026?
Secara teknis, mesin diesel tetap unggul dalam hal torsi dan ketahanan untuk jarak jauh. Namun, secara ekonomis, kelayakannya kini bergantung pada seberapa besar anggaran operasional yang disiapkan pemilik. Jika orientasi utama adalah penghematan biaya harian, mobil diesel nonsubsidi kini bukan lagi pilihan utama dibandingkan model hybrid atau bensin berkapasitas kecil.