Dokumen internal dari gugatan hukum antara Elon Musk dan Sam Altman mengungkap dinamika awal pembentukan OpenAI yang melibatkan sejumlah petinggi teknologi global. Musk secara terbuka memberikan dukungan penuh bagi bos Valve, Gabe Newell, untuk menduduki kursi dewan direksi sembari melontarkan kritik tajam terhadap kompetensi Jeff Bezos.
Perseteruan hukum yang melibatkan Elon Musk dan Sam Altman terus membuka tabir rahasia tahun-tahun awal berdirinya OpenAI. Dalam rangkaian email yang dirilis ke publik, terungkap bahwa Musk pernah memberikan restu penuh bagi pendiri Valve, Gabe Newell, untuk bergabung dalam dewan direksi perusahaan kecerdasan buatan tersebut pada awal 2018.
Nama Newell muncul dalam daftar calon anggota dewan yang diajukan oleh Greg Brockman kepada Musk pada 31 Januari 2018. Selain Newell, daftar tersebut mencakup nama besar lain seperti Reid Hoffman (LinkedIn) dan Adam d'Angelo (Quora). Musk membalas email tersebut dengan memberikan "dua jempol" untuk ketiga nama itu, namun mengaku belum mengenal kandidat lain dengan cukup baik.
Suntikan Dana Rp 320 Miliar dari Bos Valve
Keterlibatan Gabe Newell di OpenAI ternyata jauh lebih dalam daripada sekadar penasihat informal. Dokumen tersebut mengonfirmasi bahwa Newell memberikan donasi sebesar US$ 20.008.279 atau sekitar Rp 320 miliar kepada OpenAI pada April 2018. Dana segar ini menjadikannya salah satu pendukung finansial utama di masa transisi organisasi tersebut.
Shivon Zilis, yang saat itu menjabat sebagai eksekutif di Neuralink, sempat menyarankan kepada Musk agar Newell ditempatkan di dewan penasihat informal untuk menghindari potensi konflik kepentingan. Menariknya, Newell juga memanfaatkan kedekatannya dengan Musk untuk memfasilitasi pertemuan antara kreator game legendaris Hideo Kojima dengan tim SpaceX.
Kekaguman Musk terhadap Newell bahkan nyaris memengaruhi penamaan OpenAI. Musk sempat mempertimbangkan nama "Freeman" untuk perusahaan AI tersebut. Nama ini merujuk pada Gordon Freeman, protagonis utama dari seri game Half-Life garapan Valve, yang menurut Musk merepresentasikan misi utama yang ingin dicapai perusahaan.
Kritik Tajam untuk Jeff Bezos dan Blue Origin
Berbanding terbalik dengan pujiannya untuk Newell, Musk menggunakan korespondensi internal tersebut untuk menyerang Jeff Bezos. Musk menyebut pendiri Amazon itu "tidak tahu apa-apa" (clueless) mengenai ketertinggalan perusahaannya, Blue Origin, dalam perlombaan industri antariksa melawan SpaceX.
Musk menuliskan bahwa Bezos terus merasionalisasi posisinya dan meremehkan kemampuan SpaceX dari tahun ke tahun. "Bezos masih tidak tahu betapa jauhnya dia tertinggal, terus melebih-lebihkan kemampuannya sendiri dan meremehkan SpaceX secara dramatis," tulis Musk dalam email bertanggal 1 Februari 2018.
Kekesalan Musk dipicu oleh persaingan perebutan talenta insinyur antara kedua perusahaan. Musk mengklaim bahwa seorang insinyur SpaceX yang sempat pindah ke Blue Origin akhirnya kembali dan menceritakan betapa "putus asanya" kondisi di perusahaan milik Bezos tersebut. Sejak saat itu, Musk mengklaim tidak ada lagi stafnya yang menggubris tawaran rekrutmen dari Blue Origin.
Dinamika Kekuasaan di Balik Layar OpenAI
Rilisnya dokumen-dokumen ini memberikan perspektif baru bagi industri teknologi di Indonesia mengenai bagaimana aliansi global dibentuk. OpenAI yang kini kita kenal sebagai raksasa AI, pada awalnya adalah eksperimen yang sangat bergantung pada jaringan pertemanan dan ego para miliarder Silicon Valley.
Meskipun Newell kini tidak lagi terlihat aktif dalam operasional OpenAI, jejak finansial dan pengaruhnya di masa awal menjadi bukti kuat bagaimana sektor gaming dan AI memiliki keterkaitan erat sejak semula. Sementara itu, persaingan antara Musk dan Bezos yang terungkap dalam email lama ini menjelaskan mengapa hubungan keduanya tetap dingin hingga saat ini.